SerambiUmmah/
Home »

Ihwal

Ulama Malaysia Resah Iklan Komersialisasi Pembacaan Al-Quran

Pengguna layanan bisa menghubungi sang ustadz, dan memberi nama-nama orang yang meninggal dan masih hidup, untuk disebut dalam doa

Ulama Malaysia Resah Iklan Komersialisasi Pembacaan Al-Quran

SERAMBI UMMAH.COM – Situs themalaymailonline.com memberitakan sejumlah ustadz memasang iklan layanan baca Alquran di koran-koran Singapura. Mereka memasang tarif 350 dolar sampai 500 dolar Singapura, atau Rp 3,3 juta sampai Rp 4,8 juta, untuk layanan baca Al Quran 30 juz dalam satu hari.

Pembacaan Al Quran dilakukan di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, di Madinah dan Makkah. Pengguna layanan bisa menghubungi sang ustadz, dan memberi nama-nama orang yang meninggal dan masih hidup, untuk disebut dalam doa sebelum pembacaan dimulai.

Ada pula ustaz yang memasang tarif lebih murah, sekitar 1.000 dolar Singapura, atau Rp 9,6 juta, jika layanan satu paket dengan bacaan tahlil dan doa selamat, dan pembacaan diadakan di rumah yang memanggil.

“Janganlah menjadikan bacaan Al Quran sebagai sumber pendapatan,” ujar Datuk Asri.

“Jika mereka yang tidak senang dengan teguran saya dan menuduh saya Wahhabi, apakah imam-imam besar Ahlu Sunnah Wal Jamaah menjadikan membaca Al Quran sebagai pendapatan,” lanjutnya.

Menurut Datuk Asri, Imam al-Syafii mengatakan hadiah bacaan Al Quran tidak akan sampai kepada orang yang sudah mati. Datuk Asri mengatakan bukan tidak mungkin jika Imam al-Syafii hidup pada masa kini juga akan dituduh Wahhabi oleh golongan Ahbash dan penyokong Syiah yang berbaju Sunni.

Sampai saat ini ulama berbeda pendapat soal membaca Al Quran sebagai hadiah untuk orang mati. Namun, tidak ada ulama yang menyuruh orang meraup keuntungan atas nama agama, demikian tulis inilah.com.

“Jangan sampai orang beranggapan uang bisa membeli syurga melalui wakil-wakil Tuhan yang mencetak pahala untuk si kaya,” katanya. “Kembalilah kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah tulen, seperti yang diamalkan generasi salafus soleh,” lanjutnya. (emc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help