Mewaspadai Karakter “Firaun” dalam Diri

hidup di abad modern, maka bukan saja dia telah melanggar Hak Azasi Manusia, tetapi dia juga telah menjadi manusia biadab

Mewaspadai Karakter “Firaun” dalam Diri

SERAMBI UMMAH.COM - SECARA historis, kata ‘Firaun’ merupakan gelar bagi penguasa Mesir di era Nabi Musa. Namun, secara hakikat, Firaun ini bisa juga menjelma menjadi suatu sifat yang jika tidak diwaspadai bisa merasuk kedalam diri siapapun, terutama para pemegang kebijakan alias penguasa, tidak terkecuali penguasa dalam skala kecil, yakni kepala rumah tangga atau bahkan siapa pun yang membiarkan kesombongan bersarang dalam hati.

Oleh karena itu, memahami Al-Qur’an dengan senantiasa mentadabburinya merupakan satu hal pokok yang setiap Muslim mesti memprioritaskannya.

“Demikianlah dijadikan Firaun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.” (QS. Mukmin [40]: 37).

Di antara keburukan perilaku Firaun adalah kegemarannya menyiksa orang lemah.

“Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka.” (QS. Thahaa [20]: 47).

Firaun bahkan melakukan tindakan tidak manusiawi secara membabi buta. “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka.” (QS. Al-A’raaf [7]: 127).

Andaikata Firaun ini hidup di abad modern, maka bukan saja dia telah melanggar Hak Azasi Manusia, tetapi dia juga telah menjadi manusia biadab. Bagaimana mungkin bayi pun mesti dihukum mati hanya karena bayi itu keturunan Bani Israil.

Ayat ini menggambarkan kepada umat Islam bahwa Firaun itu orangnya ringan berbuat jahat. Dan, parahnya ia menganggap kejahatannya itu sebagai kebaikan dan keindahan yang tentu saja diyakininya benar.

Dalam konteks lebih spesifik, kisah ini seakan memberikan peringatan secara tidak langsung, jangan sampai seorang Muslim memiliki sifat seperti ini, yakni memandang baik keburukan atau kesalahan yang dilakukan.

“Ah, gapapa ambil saja, toh cuman 100 juta. Dari miliaran rupiah itu, 100 juta gak ada apa-apanya,” demikian mungkin mereka yang pada awalnya terseret pada praktik korupsi, hingga pada akhirnya dianggaplah korupsi itu tidak apa-apa asal tidak banyak.

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help