SerambiUmmah/

Hiduplah untuk Menebar Sejuta Manfaat

Saat itu pasukan kaum muslimin sedang kacau. Tanpa diduga, musuh Islam tiba-tiba menyerang dari arah belakang bukit.

Hiduplah untuk Menebar Sejuta Manfaat

Di gulir waktu yang sama, manusia juga bisa menemui sosok yang nyaris setiap waktu namanya terukir dalam gema-gema kebaikan. Ia disebut-sebut meski kehidupannya telah berlalu sejak masa dahulu.

Para ulama, sejumlah pahlawan dan tokoh-tokoh pejuang dakwah Islam adalah contoh untuk manfaat yang mengalir. Sepanjang masa kehidupan manusia maka sebentang itu pula nama dan jasa mereka akan menebar wangi selalu.

Ilmu yang bermanfaat

Hingga di sini, mari kembali menengok teladan Thalhah ibn Ubaidillah. Kala ia masih hidup di dunia, namanya justru sudah melambung tinggi hingga ke taman-taman surga. Bahwa Thalhah sudah bercap syahid dan bergaransi bidadari surga sedang jasadnya masih menjejak bumi saat itu. Sebuah gelar yang sangat layak dicemburui oleh seisi langit dan bumi. Sebab mungkin tak seorangpun manusia bisa bergelar yang sama dengan pujian kepada Thalhah ibn Ubaidillah.

Sejatinya persoalan manusia bersimpul di perihal tersebut. Sebab ia kembali kepada kualitas syahadat dan iman yang telah diikrarkan kepada Allah dahulu. Hal itu berurusan dengan pokok-pokok keimanan seseorang. Apakah benar iman yang dipunyai adalah iman produktif? Adakah ilmu yang dimiliki adalah ilmu yang bermanfaat? Bagaimana dengan setiap laku yang dikerjakan, benarkah sudah memenuhi kriteria amal yang shaleh dan layak diterima oleh Allah? Dan masih sederet kata tanya lainnya sebagai evaluasi atas prestasi iman dan keyakinan tersebut.

Hendaknya seorang Muslim itu gelisah jika tumpukan ilmu dan wawasan pengetahuan yang dimiliki ternyata belum sebanding dengan amal kebaikan yang masih sedikit. Seorang Muslim juga layak risau kalau banyaknya karunia Allah yang ia peroleh rupanya belum selaras dengan kebaikan yang mesti dilakukan.

Terakhir, Syeikh az-Zarnuji, pengarang Kitab Ta’lim Muta’allim mengingatkan, orang yang mengabaikan ilmu dalam hidupnya, sesungguhnya ia telah mati sebelum kematian itu benar-benar mencabut nyawa orang itu. Sebaliknya, orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya akan tetap hidup selamanya meski ia sudah berlalu atau jasadnya telah remuk berkalang tanah. (hdc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help