SerambiUmmah/

Membentuk Ismail

dikaruniai anak berupa Ismail dalam usia 99 tahun. Dalam masa penantian yang demikian panjang, beliau tidak lelah berdoa kepada Allah

Membentuk Ismail

Yang bertanggung jawab mendidik anak sebenarnya ayah. Berhubung seorang ayah sibuk mencari nafkah, akhirnya tanggung jawab itu sering berpindah ke pundak ibu. Karena itu, berhati-hatilah saat kita mau memilih istri. Dicek bibit, bobot dan bebetnya dengan benar. Karena istri bukan hanya pendamping hidup kita, tapi juga akan jadi ibu (pendidik) atas anak-anak kita. Sekolahkan anak kita ditempat yang baik dan islami. Agar mereka bisa belajar ilmu dan akhlak sekaligus.

Keempat, Ajak Diskusi

Saat mendapatkan perintah untuk menyembelih Ismail, Nabi Ibrahim melakukan musyawarah dengan anaknya. Dan jawaban Ismail sungguh menakjubkan “Ya abatif‘al maa tu‘maru. Satajidunii insya allohu minash shabirin”. Dia mampu menjawab perkara yang berat ini dengan mantap, padahal usianya baru 13 tahun. Adakah anak usia lulus SD bisa memberikan jawaban seperti itu di masa sekarang?

Diskusi dengan anak itu penting, agar kita bisa mendeteksi sejauh mana keberhasilan dari pendidikan yang telah diterimanya. Atau bisa pula anak kita menganalisis suatu masalah berdasarkan konsep keilmuan terbaru yang dia dapatkan di sekolah atau bangku kuliah. Karena itu, seringlah diskusi, rembugan, musyawarah dan tukar pikiran dengan anak. Karena itu adalah metode pendewasaan yang efektif bagi anak.

Khatimah

Ada beberapa model pembinaan terhadap anak yang ditawarkan dalam Al Qur‘an. Sebelum kita belajar teori parenting kesana kemari, pastikan kita sudah memahami pola pendidikan anak yang termaktub dalam Al Qur‘an. Diantaranya adalah pendidikan model Ismail. Selamat mencoba. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help