SerambiUmmah/

Tahun Baru dengan Berlapang Dada

Muslim tersebut tetap tengkurab di tanah sampai si tentara datang kembali dengan senjata dan membunuhnya?

Tahun Baru dengan Berlapang Dada

SERAMBI UMMAH.COM - KETIKA Nabi Musa ‘Alaihi Salam mendapatkan tugas berat dari Allah untuk mendatangi Fir’aun, pertama yang dia minta kepada Allah adalah agar dilapangkan dadanya dengan do’a yang mashur yang kita sering ikuti hingga kini – Rabbisyrohlii shodrii.

Tahun baru 1 Muharram 1437 H, sebenarnya bisa dimaknai sebagai awal dari serangkaian tugas berat bagi umat ini kedepan – dan tugas-tugas berat ini hanya dimungkinkan terlaksananya bila kita semua bisa mulai dari melapangkan dada kita.

Di awal tahun baru ini sampai dua atau tiga bulan kedepan kelapangan dada umat ini akan diuji secara serentak di seluruh negeri. Bagi rakyat, maukah kita memilih pemimpin-pemimpin daerah – yang bisa jadi tidak separtai dengan kita – tetapi dia adalah Muslim yang baik yang layak untuk memimpin.

Bagi para calon pemimpin, legowokah Anda untuk menyerahkan kepemimpinan kepada saudara Anda yang memiliki kompetensi lebih dari Anda?

Kekalahan umat di Jakarta pada pilgub sebelumnya seharusnya menjadi pelajaran yang paling berharga bagi umat ini. Bahwa ketika umat ini terpecah, yang memimpin kemudian adalah justru umat lain. Gejala yang sama sangat bisa jadi terjadi pada Pilgub yang akan datang, bila umat ini tidak segera berlapang dada.

Saya mengenal setidaknya ada tiga calon gubernur sudah dari kalangan kaum Muslimin, masing-masing didukung oleh sebagian dari umat ini, yang lain didukung oleh sebagian umat yang lain lagi. Bila ini diteruskan sampai pilgub 2017 nanti, maka justru umat yang lain yang akan bertepuk tangan dengan pecahnya umat Islam ini.

Maka ketika salah satu bakal calon gubernur tersebut mengundang saya ke rumahnya untuk memberi masukan, masukan saya hanya dua yaitu pertama – yakinkan bahwa partai Anda mendukung pencalonan Anda. Setelah itu yang kedua adalah persatukan umat dengan modal bahwa umat Islam bahkan pernah menang di DKI di era Orde Baru dan di awal era reformasi, mengapa sekarang justru menyerahkan kepemimpinan ke umat yang lain?

Bila perlu seluruh tokoh-tokoh umat Islam di Jakarta bersyuro untuk memilih siapapun pemimpin umat Islam untuk dimajukan menjadi calon gubernur DKI 2017 nanti – silahkan dipilih dengan lapang dada – satu (atau sepasang ) saja sehingga suara umat tidak terpecah pada pilgub 2017 nanti. Ingat bahwa DKI adalah barometer Indonesia, kita sudah melihat bagaimana keberhasilan di DKI bisa mengantarkan pada kepemimpinan nasional – dan ini bisa berulang!

Di bidang ekonomi-pun demikian, umat yang mayoritas ini terperdaya di bidang ekonominya karena sumber-sumber ekonomi dikuasai pihak lain. Tiga kebutuhan pokok yaitu Food, Energy and Water (FEW) sudah dipegang orang lain, demikian juga dengan sejumlah besar sumber daya alam – mulai dari hutan-hutan sampai tanah-tanah yang paling mahal di kota-kota besar.

What's wrong dengan umat ini di jaman ini ? sebegitu lemahnya kitakah sehingga mirip dengan kondisi ketika umat ini dikuasai kaum Tatar – ketika seorang tentara Tatar saja bisa masuk kampung dan membunuh seisi kampung tersebut tanpa adanya perlawanan?

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help