SerambiUmmah/

Tahun Baru dengan Berlapang Dada

Muslim tersebut tetap tengkurab di tanah sampai si tentara datang kembali dengan senjata dan membunuhnya?

Tahun Baru dengan Berlapang Dada

Atau seperti seorang mulsim yang berpapasan di jalan dengan tentara Tatar, kemudia si tentara menyuruh Muslim tersebut tengkureb di tanah sementara si tentara mengambil senjata di markasnya.

Muslim tersebut tetap tengkurab di tanah sampai si tentara datang kembali dengan senjata dan membunuhnya?

Sebegitu lemahkah kita sehingga tiada lagi perjuangan politik untuk mengembalikan kepemimpinan pada umat – yang seandainya secara demokrasi-pun harusnya kita menang? Tiada lagikah perlawanan ekonomi – yang kalau umat ini ada keberpihakan pada produk dan jasa kaum Muslimin saja – mestinya pasar ini kembali ke tangan kaum Muslimin?

Tentu itu semua adalah tugas berat dan besar, maka dari itulah kita harus melonggarkan dada kita dengan do’a seperti yang dicontohkan di Al-Qur’an sebelum musa berangkat mendatangi Fir’aun yang telah melampaui batas .

Ketika dada kita lapang, kita bisa melihat dan menerima segala sesuatunya dengan mudah. Akan ada ruangan yang cukup untuk berbagai persoalan yang akan menjejali dada kita lagi dan lagi, kita tidak akan sesak nafas karenanya.

Sebaliknya bila dada kita sempit, maka dengan satu tugas atau masalah kecil saja – kita sudah akan dibuat sesak nafas karenanya. Bila dada kita sempit, kita akan selalu melemparkan tugas/masalah ke orang lain – karena kita tidak merasa itu tugas kita.

Bagi kita yang tidak terjun ke politik tetapi memilih bidang ekonomi sebagai perjuangannya misalnya, bagaimana kalau kita mulai bertekad mengelola kebutuhan dasar Food, Energy and Water oleh kita sendiri ?

Ingat yang terucap oleh juru bicara Yahudi tahun 1970-an Henry Kissinger: “Control the oil and you control nations. Control the food and you control the people”.

Sekarang terbuktilah ucapan Kissinger tersebut bahwa mereka bisa mengendalikan negara dan juga rakyatnya, karena kita tidak mandiri energi maupun pangan.

Demikian pula dengan penguasaan air oleh jaringan mereka-mereka ini, lengkap sudahlah penguasaan mereka atas FEW (Food, Energy and Water) yang kini bener-bener menjadi few (sedikit) yang tersisa dalam kendali umat. Akan adanya fitnah pangan dan air inipun kita sudah diingatkan Uswatun Khasanah kita lebih dari 1400 tahun lalu.

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help