Makelar Doa

Sempat membuat heboh, jasa titip doa ke Baitullah yang diselenggarakan @SedekahHarian dan Ahmad Gozali dihentikan.

Makelar Doa
net
Ilustrasi 

SERAMBIUMMAH.com, - Sempat membuat heboh, jasa titip doa ke Baitullah yang diselenggarakan @SedekahHarian dan Ahmad Gozali dihentikan. Itu setelah jasa berbayar dipajang di http://sedekahharian.com/ membuat publik terkejut.

Masyarakat mempertanyakan kebenaran dan dikemanakan uang yang terkumpul.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Menteri Agama Suryadharma Ali pun bereaksi. Ketua MUI, Amidhan, mengecam perbuatan Ahmad Gozali itu.

Ketua Bidang Fatwa MUI Kalimantan Selatan, Rusdiansyah Asnawi, mengatakan tidak ada dasar hukumnya orang berdoa harus bayar. Dia pun mengimbau masyarakat agar jangan terkecoh dengan hal-hal demikian.

“Memang boleh saja minta didoakan, tetapi lebih bagus lagi berdoa sendiri. Jika ada yang menawarkan doa tapi harus bayar, itu jelas membodohi masyarakat. Mudah-mudahan tidak ada masyarakat Kalsel yang terkecoh,” imbuhnya.

Ustadz Uria Hasnan mengatakan titip doa terjadi sejak zaman sahabat dan tabiin pascawafatnya Rasulullah. Setiap ada sahabat yang hendak ke Madinah dan mengunjungi makam Rasulullah, orang dekatnya kerap menitip salam dan doa Rasulullah. Berdasarkan hal ini, sah-sah saja kalau ada muslim Indonesia yang menitipkan doa kepada orang yang ingin berangkat umrah dan haji.

“Kalau menitip doa kepada jemaah yang ingin umrah atau haji, itu sangat diperbolehkan oleh syariat. Karena di sana ada tempat-tempat ijabah, yang tidak semua orang bisa merasaknnya,” kata Uria.

Tetapi menitipkan doa tidak harus bayar atau dengan mahar tertentu. “Agama jangan dijadikan cara untuk mengais rezeki sebanyak-banyaknya. Agama adalah cara seorang insan untuk mengenal Tuhannya dan memberi petunjuk dalam kehidupan setiap insan,” katanya.

Andaikata orang yang menitipkan doa tersebut memberikan uang terima kasih, menurut Uria, masih wajar. Tapi dia menegaskan perbuatan tersebut jangan dijadikan bisnis.

“Hati-hati. Orang-orang yang bermain seperti itu, termasuk orang-orang yang memperjualkan ayat-ayat Tuhan,” tegasnya.

Ketua PW Muhammadiyah Kalsel, Akhmad Khairudin, menegaskan berdoa lebih baik dilakukan secara langsung. Namun demikian menitipkan doa kepada seseorang terutama yang diyakini memiliki ilmu agama tinggi sah-sah saja.

“Namun kalau sudah dikomersialkan, itu tidak bagus. Motifnya jadi lain kalau dikomersialkan karena seolah kedok hanya untuk cari materi dan untung,” katanya.

Sedang Kepala Kemenag Kota Banjarmasin H Ahmadi H Syukran mengimbau kepada masyarakat agar tidak tergiur dengan promosi tersebut. Pasalnya, bisnis jasa doa tersebut sudah mengarah ke komersial bukan lagi ke nilai khusyu sebuah doa.

“Doa itu jangan dikomersialkan. Boleh minta doa itu tapi kalau dititip dengan maksud komersial sudah lain motif, lain lagi urusan niatnya nanti rusak niatnya. Jangan diikuti,” imbaunya. (m hasby suhaily/nia kurniawan - agus rumpoko)

Editor: Dheny
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved