Breaking News:

Rantai Kematian

Lama, lama sudah aku tidak membuka kitab yang teramat suci ini, apalagi membacanya-sudah berdebu.

Editor: Dheny
Rantai Kematian
ILUSTRASI: BPOST GROUP/DENI

Tapi, ia tetap tidak memberikan. Aku mengamuk seperti orang kesetanan. Ya, memang waktu itu aku benar-benar kesetanan, karena tubuhku, gerakanku, kesadaranku telah dikuasai minuman haram. Minuman para setan. Aku hampir menamparnya. Tapi, ayah terlebih dulu menampar mukaku. Aaagh… astagfirullah.

Ayah, oh…ayah… kenapa lagi dengan ayah. Lelaki yang tegar di rumah ini. Lelaki yang paling kutakuti di rumah ini. Berkumis tebal, beralis hitam pekat, berwajah seram, berbadan besar dan kekar. Andai saya ayah masih ada, mungkin aku tidak sejahat ini.

Ayah terkena penyakit TBC yang terus menggerogoti tubuh besarnya hingga ajal menjemputnya. Dosa yang juga pernah aku lakukan terhadap ayah; tiga kali ayah memasukkanku ke pesantren tiga kali pula aku dikeluarkan dari pesantren dengan tidak terhormat. Karena ahlak mazdmumah-ku, suka melanggar peraturan di pesantren. Merokok dan berkelahi itu yang sering aku lakukan.

Aku tahu, perbutanku itu telah melukai hatinya, melukai perasaaannya. Tapi, aku sangatbangga punya ayah seperti ayah. Ia tetap tegar dan sabar juga terus berusaha memperbaiki akhlak jelekku ini. Mungkin karena tahu anak adalah amanah yang dititipkan oleh Allah kepada orang tua. Ayah…maafkan daku.

Aku pun merantau untuk mencari seorang ‘alim untuk menjadikannya sebagai guru dan dokter spesialis hati dan diri, agar dapat membantuku meniti dunia menuju alam surgawi nan jauh disana. Seperti yang telah disarankan ibu dulu. Hmmm, mungkin ini sebagai obat hati ibu yang pernah terluka karenaku. Perlu diketahui juga, bahwa awal kesadaranku saat ayah wafat. Sebelum menutup mata, ia melantunkan sebait kalimat nan indah sekali : Asyhaduallaaailahaillaaah Muhammadurrasulullaaaaaah… Mungkin waktu itu aku sudah diberikan oleh Tuhan hidayah belum taufiknya. Buktinya, aku masih tetap melakukakan perbuatan kezi itu.

Setelah dipastikan oleh Ustadz Soleh yang kujadikan guru dan dokter spesialis hati dan diri yang kutemui jauh diluar kota ini-bahwa aku 100% telah sembuh, aku pun disuruh pulang dengan dibekali berbagai ilmu, seperti Tauhid, Tasawwuf, dan Fiqih khususnya. Juga dibekali satu pesan bahwa aku tidak boleh lagi mengulagi perbuatan yang teramat sangat buruk itu.

Sesampainya di rumah, aku mendapati perempuan tua yang tengah bersujud lengkap dengan mukena salatnya. Itu adalah ibuku. Lama, lama sekali, aku mencoba mendekatinya. Tersentak! Setelah kudapati ibu sudah tidak bernyawa, kulitnya pucat, badannya kaku dan terasa dingin. Ibu… Innalillahiwainnailaihiraaji’uun.

Ingin sekali aku meninggalkan dunia seperti ayah dan ibu. Tersenyum...tenang.. doaku terus mengalir semoga husnul khatimah.

***

Malam berikutnya, tepatnya saat 1/3 malam akhir, rasanya ada suatu keinginan yang memaksaku untuk pergi ke mesjid yang jauh dari rumahku.

Halaman
1234
Tags
Cerpen
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved