Breaking News:

Rantai Kematian

Lama, lama sudah aku tidak membuka kitab yang teramat suci ini, apalagi membacanya-sudah berdebu.

Editor: Dheny
Rantai Kematian
ILUSTRASI: BPOST GROUP/DENI

Saat daun pintu itu terbuka angin malam menerjangku. Dingin sekali. Aku terus melangkah kaki menuju masjid. Setapak demi setapak. Sambil mengulang hapalan kitab suci yang pernah kuhapal dulu di pesantren, tapi sempat hilang. Astagfirullah. Di benakku sudah terkonsep: Kalau sudah sampai di masjid aku akan melaksanakan salat tahajud beberapa kali, selebihnya membaca ayat-ayat yang terangkai suci lagi mulai ini sampai fajar menyapa saat azan menggema. Tapi, sebenarnya rasa ingin yang memaksaku bukan itu. Aku sungguh tak tahu, kenapa aku sesemangat ini.

Tak terasa pengulangan hapalanku sudah sampai pada surat Ali Imran. Saat melantunkan ayat ke-145 dari surat itu, aku teringat dua pahlawanku, yang selalu menolongku di setiap tempat dan waktu: ayah dan ibu yang telah mendahului. Seketika mata ini berair dan menetes.

Tiba-tiba saja air langit juga ikut menetes semakin banyak semakin melebat. Alquran yang kupegang dengan tanganku cepat-cepat kumasukkan ke dalam saku kemeja. Agar tidak basah kena air hujan. Aku berjalan setengah berlari untuk menghindar dari serangan hujan. Penglihatanku hampir hilang, hanya beberapa meter saja lagi yang tertangkap oleh bola bata. Karena tebalnya air hujan di depan sana. Tapi, itu tak sedikit pun menggoyahkan semangatku.

Saat itu, ada sebuah mobil yang tengah melaju di depanku, cahaya lampunya terang. Cukup membantu membelah gelapnya malam yang disertai lebatnya hujan. Makin mendekat, cahayanya semakin terang. Lebih dekat cahayanya menyilaukan. Mobit itu tetap melaju dengan kecepatan tinggi cahaya lampunya sangat…

”Duuuaaghk…!!!” aku terlempar beberapa meter kebelakang saat moncong mobil itu telak di peruku. Ahh… kakiku….perutku…pinggangku… tanganku… kepalaku… semuanya terasa sakit. Sakit sekali. Rasanya semua persendianku mau lepas. Tulang-tulangku terasa remuk. Mataku nanar. Uugh.

Di balik mata nanarku, kulihat tiga orang keluar dari mobil. Mereka mendekatiku. Di tengah itu mungkin bosnya. Ia memakai kaos hitam. Mereka makin mendekatiku yang sudah tak berdaya. Tapi, entah kenapa aku tidak gentar sedikitpun.

“Hahaha… Feb, Feb.., kalau sudah begini siapa lagi yang dapat menolongmu?” suara yang sangat kukenal. Ya, itu suara Alex, orang yang pernah kukalahkan beberapa hari lalu.

Dua orang anak buahnya itu menghampiriku. Mereka memegang tanganku satu-satu dan meletakkanya di bahu mereka. Kini, aku yang lemah dipaksa untuk berdiri. Kemudian, bos mereka maju satu langkah.

“Feb, kau masih ingat dengan perkataanku dulu heeh?! Sekarang kau sudah kapok, siapa lagi yang dapat menolongmu? Hahaha…”

“Allah” jawabku sekenanya.

Halaman
1234
Tags
Cerpen
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved