Breaking News:

Terpaksa Salat Jumat di Teras Rumah Warga

KETIKA seruan untuk menunaikan salat Jumat berkumandang, sejumlah warga Sungai Andai, Kompleks Herlina Perkasa

Editor: Dheny
BANJARMASIN POST GROUP/KHAIRIL RAHIM
Masjid Hijratul Khairah yang arsitektur, eksterior dan interiornya terbilang sederhana, namun tetap padat kegiatan dari jemaahnya. 

SERAMBIUMMAH.com, - KETIKA seruan untuk menunaikan salat Jumat berkumandang, sejumlah warga Sungai Andai, Kompleks Herlina Perkasa, Banjarmasin Utara, bergerak keluar rumah menuju sebuah masjid sederhana.

Satu persatu jemaah mengisi shaf yang kosong. Banyaknya yang datang membuat pengurus masjid menyediakan tempat lain, yakni memanfaatkan badan jalan di halaman samping dan belakang masjid.

Gelombang jemaah yang terus berdatangan, pada akhirnya menempati halaman rumah warga di sekita masjid sebagai tempat untuk salat bersama. Itulah suasana setiap Jumat siang di Masjid Hijratul Khairah, Jalan Padat Karya, Sungai Andai, tersebut.

Luas ruang induk masjid 10x12 meter persegi. Hanya mampu menampung puluhan jemaah. Untuk halaman masjid, hanya terdapat sisa satu meter dari jalan tanpa dikelilingi dengan pagar pembatas. Sedangkan yang datang, jumlahnya sekitar 100 jemaah.

Penuturan seorang pengurus masjid, M Wardani Kusuma, tempat ibadah ini dibangun sekitar 2008. Dalam perkembangan, jumlah jemaah tidak sebanding dengan ruang induk masjid untuk melaksanakan salat Jumat bersama.

“Kalau salat fardu lima waktu, memang masih bisa menampung. Namun saat salat Jumat, selalu meluber hingga ke jalan dan halaman rumah warga,” kata dia.

Awalnya, lanjut Wardani, masjid yang diketuai Ahya Namiri ini hanya berupa musala. “Namun kemudian, hanya beberapa bulan, ditingkatkan statusnya menjadi masjid,” susulnya.

Mengenai rencana untuk memperbesar masjid, Wardani mengaku memang ada. Tetapi, terganjal lahan.

“Lahan masjid terbatas. Mengingat di samping dan belakang masjid adalah rumah warga,” imbuh dia.

Saat ini, lanjut dia, renovasi hanya dilakukan ditempat wudu dan toilet untuk jemaah. Dibangun dari salah satu rumah warga yang diberikan ganti rugi. “Saat ini masih dalam tahap pembangunan,” ungkap Wardani.

Meski ruangan induk tidak terlalu besar, namun masjid ini menjadi kebanggaan warga sekitar. Selain sebagai tempat ibadah, ruang induk itu dimanfaatkan mereka untuk berdiskusi. Temanya, bisa masalah keagaamaan, bisa pula masalah duniawi.

Sedangkan upaya untuk meramaikan masjid adalah dengan melakukan berbagai kegiatan yang bernuansa islami. Di antaranya, majelis taklim yang digelar setiap Minggu malam dan yasinan serta salawat burdah sebulan sekali.

Mengenai konsep bangunan, Masjid Hijratuh Khairah sama pada masjid umumnya. Berbentuk kubus, dengan sebuah kubah, tanpa ada bentuk bangunan tambahan lainnya.

Memasuki ruang induk, empat tiang beton menjadi penyangga utama. Khusus interiornya, terbilang sederhana tanpa banyak hiasan yang mendominasi. Meski demikian, sentuhan nuansa tradisional Banjar tetap ada, yakni bisa dilihat dari mimbarmya. (khairil rahim-alpri w)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved