Bapukah atau Bapulas Sama Nikmatnya

Soto Banjar. Masakan yang satu ini sudah sangat familiar bagi urang banua. Masakan ini bisa ditemui

Bapukah atau Bapulas Sama Nikmatnya
net
Soto Banjar 

SOTO Banjar. Masakan yang satu ini sudah sangat familiar bagi urang banua. Masakan ini bisa ditemui di sejumlah warung sederhana hingga hotel berbintang.

Cara menikmatinya pun beragam. Ada yang suka dicampur kecap asin, bisa pula ditemani sate ayam.

Namun yang tak boleh dilupakan adalah daging ayam suwir. Jika kurang puas dengan ayam suwir, bisa minta tambahan potongan dada, paha atau sayap.

Dipukah atau dengan cara dipatah ayamnya adalah salah satu kelebihan menikmati soto ayam bapukah H Anang di Jalan Pekapuran Banjarmasin. Warung soto yang sudah puluhan tahun ini selalu ramai didatangi penikmat kuliner banua.

H Anang itu memang nama pemilik warung. Kini ada tambahan lagi kata-kata di spanduk warungnya, bukannya bupakah saja tapi juga bapulas alias menikmati dengan cara memutar terlebih dahulu potongan ayam tadi. “Bapukah dan bapulas. Begitulah ikon soto Banjar kita,” ucap H Anang.

Menyebut soto bapukah H Anang, sudah pasti penikmat kuliner banua langsung teringat dengan letaknya di Pekapuran A, Banjarmasin. Warungnya sederhana sekali. Berada di halaman rumah pemiliknya H Anang Akhmad tak jauh dari jembatan yang menghubungkan Pekapuran A dengan Pekapuran B Jalan Kolonel Sugiono.

Tak sulit menemukan warung yang sudah beroperasi 35 tahun lalu ini. Awalnya H Anang berjualan nasi kuning dan lontong. Kini lebih tenar dengan sotonya. Meski warungnya sederhana, tapi selalu ramai dikunjungi. Satu hari rata-rata 60 ekor ayam diperlukan untuk melayani ratusan pengunjung warung sederhana yang buka pagi hingga sore hari.

Ciri khas yang dikenal orang adalah ada embel-embel ayam bapukah. Memang cukup unik dan kenyataannya saat mau disajikan kepada pengunjung, ayamnya harus dipukah (dipatahkan). Saat mematahkan potongan ayam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi  pengunjung.

Bahkan kini, ditambah lagi bapulas (diputar). Tambahan ciri khas ini karena semakin dikenalnya soto ayam H Anang yang membuat banyak orang meniru. Di Banjarmasin memang mulai banyak bermunculan nama serupa.

Ia mengaku membuka cabang di tempat lain seperti di Jalan Pulau Laut dekat  SPBU, kawasan Teluk Dalam, Jalan A Yani Kilometer 5 dan  Kayutangi. “Selain di lima tempat yang ada itu, bukan cabang kita, alias tidak resmi,” beber H Anang.

Keempat cabang semuanya di Banjarmasin. Walaupun buka berpencar namun soal resep tetap diolah dari tangan H Anang dan istrinya Hj Rohana. Untuk melanggengkan usaha ini,  rahasia bumbunya sudah mulai sedikit demi sedikit diturunkan ke anak-anaknya.

Namun untuk menjaga kualitas, H Anang tetap saja turun langsung untuk meracik bumbu. Keahlian mengolah, mengaduk, cara memasak hingga mengatur suhu memang tak bisa gampang didapat dan diturunkan. Butuh waktu dan pastinya ada rahasia-rahasia tertentu yang tak diberikan ilmunya secara langsung.

“Bumbu boleh sama. Tapi keahlian tangan meracik bumbu, itu yang membedakan,” beber lelaki yang kini sudah berusia 83 tahun namun masih tampak sehat dan bugar ini.

Tak dibantahnya banyak orang mau meminta  ilmu memasak yang dimilikinya namun tak diberikan. Kenapa? Karena ia tak ingin nama besar yang disandangnya bisa rusak. Ia khawatir hasilnya beda dengan aslinya dan menjadi rusak semuanya.

Cabang yang ada diakuinya masih ditangani anak-anak sehingga tak khawatir pembajakan. Selain itu dirinya juga langsung memonitor. Karena itu pulalah dirinya hingga saat ini tak mau mengembangkan usaha dengan cara franchise. Kemampuan tangan mengolah masih menjadi pertimbangan ia tak mau membuat sistem franchise. (risman noor-sigit)

Berita Populer
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved