Dilarang Berbincang Setelah Isya

AKHIR-akhir ini Budi, mahasiswa semester akhir Unlam, acap kali begadang. Alasannya harus

Dilarang Berbincang Setelah Isya
net
Ilustrasi

AKHIR-akhir ini Budi, mahasiswa semester akhir Unlam, acap kali begadang. Alasannya harus mengerjakan skripsi yang sudah memasuki tahap akhir.

Dikejar deadline mas. Hampir setiap malam mengerjakan skripsi, karena saat siang saya sambil bekerja,” kata Budi.

Begitu pula Iman, hampir setiap malam ia begadang. Tuntutan pekerjaannya menyebabkan ia harus pulang malam hampir setiap hari.

“Iya ni, setiap hari pulang hampir pukul 8 malam. Mandi istirahat. Kemudian ada saja yang dikerjakan. Biasanya tengah malam baru bisa tidur,” kata karyawan sebuah perusahaan swasta di Banjarmasin ini.

Bagaimana pandangan Islam mengenai begadang. Nabi SAW melarang berbincang-bincang atau ngobrol setelah Isya dan selalu mengingatkan para sahabat akanhal tersebut.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata:

“Nabi SAW selalu melarang kami berbincang-bincang setelah Isya” (Diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad dan Ibnu Majah dalam Sunan).

Diriwayatkan dari Abi Barzahal-Aslami ra, “Nabi SAW lebih senang mengakhirkan salat Isya. Beliau tidak senang tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang setelahnya.” (Diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih-nya).

Al-Hafizh Ibn Hajar berkaitan dengan hadits ini mengatakan: “Iyadh mengatakan: “Nabi SAW tidak senang tidur sebelum Isya, karena hal tersebut kadang dapat menyebabkan pelaksanaan salat Isya keluar dai waktunya atau keluar dari waktunya yang terbaik, sedang berbincang-bincang setelah Isya terkadang menyebabkan tidur sebelum Subuh, tidur pada waktu terbaik mengerjakan Salat Subuh, atau tidak mengerjakan Salat Malam. (Ibn Hajar, Fath al-Bari, II:73).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, Nabi SAW bersabda,”Tidak boleh berbincang-bincang (setelah Isya) kecuali bagi orang-orang yang melakukan sholat atau bepergian.” (Diriwayatkan Ahmad dalam al-Musnad, ath-Thayalisi, Ibn Nash al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Abu Ya’la dan al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih al-Jami’ nomor 7375).

Halaman
12
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved