Breaking News:

Menjadi Saksi Sejarah Kesultanan Banjar

Sebuah bangunan menjulang tinggi berdiri kokoh di piggiran Jalan martapura Lama, Desa Sungaibatang

Editor: Dheny
BANJARMASIN POST GROUP/NUHOLIS HUDA
Arsitektur dan desain interior Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung yang masih kuno, karena dibangun semasa Kesultanan Banjar. 

SERAMBIUMMAH.com - Sebuah bangunan menjulang tinggi berdiri kokoh di piggiran Jalan martapura Lama, Desa Sungaibatang RT2, Martapura Barat. Kabupaten Banjar.

Bangunan itu tampak menjulang dengan desain atap tiga susun sampai mengerucut ke atas. Orang menyebut mirip desain rumah joglo, bak bangunan keraton.

Dinding-dindingnya yang dari kayu masih terlihat jelas, berikut langit-langit bangunan yang dihiasi ukiran-ukiran. Terdapat pula pucuk bangunan segi empat di depannya yang dikata orang adalah tempat imam. Konon, peimaman itu bentuknya segi delapan. Namun setelah diperbaiki, akhirnya menjadi segi empat.

Jika masuk ke dalam bangunan, harus melewati pintu kayu yang cara membukanya dengan digeser. Masuk ke dalam ruangan, terasa luas dan hawanya sejuk. Tiang-tiang besar berdiri kokoh, seakan tak lapuk di makan zaman.

Ada 16 tiang penyangga kayu ulin. Masing-masing berdiameter 30 sentimeter dengan tinggi kurang lebih 25 meter. Kayu-kayu itu juga menandakan adanya nilai sejarah. Sebab, kayu-kayu itu merupakan kayu kayu ulin pada masa Kesultanan Banjar.

Masjid itu dalam sejarahnya adalah Masjid Jami Sungaibatang. Namun karena ada satu tokoh terkenal setempat, Syekh Abdul Hamid Abulung, maka nama masjid lama kelamaan mengikut nama sang tokoh.

Penuturan Sobari, juru pelihara makam Syekh Abdul Hamid Abulung, menyebutkan, masjid tersebut mengikuti nama dari makam Syekh Abdul Hamid Abulung. Seorang tokoh zaman Kesultanan Banjar pada waktu Syekh Muhammad Arsyad, era 1780. Karena ada sisi sejarah, maka kini masjid itu juga menjadi cagar budaya untuk situs yang harus dilestarikan.

“Memang dulunya masjid ini bukan nama Syekh Abdul Hamid Abulung. Tapi belakangan mengikut nama beliau, mengingat masjid ini dikembangkan pembangunanya dan disisihkan dari setiap peziarah yang mau ke makam beliau yang berada di sebarang sungai masjid ini,” urai Sobari.

Hal senada disampaikan Muhtadin, juru pelihara Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung di Jalan Martapura Lama. “Masjid bukan dibangun oleh Datu, tapi dibangun oleh warga yang mengembangkannya mengambil kumpulan uang untuk disisihkan dari peziarah yang datang ke makam Datu,” ujarnya.

Diceritakannya, sebelum 1931, masih pada zaman Belanda, Masjid Sungaibatang ini berada di seberang sungai. Tepatnya, belakang makam Sungai Datu Abulung.

Halaman
12
Berita Populer
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved