Penjara Suci

Ketika itu UN sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya saja lagi. Vina adalah salah satu sahabat terbaik Rizki

Penjara Suci
BPOST GROUP/DENY
Ilustrasi

Tak terasa sudah sebulan Rizki berada di pesantren, selama itu pula Rizki masih belum menemukan apa yang diharapkannya. Suasana kelas sedikit demi sedikit mulai terlihat ramai dengan berdatangannya santri-santri.

Rizki masih saja melamunkan tentang teman-temannya di kampung halamannya. Tidak berapa lama seorang ustadz memasuki kelas Tajhizi D, kelasnya Rizki.

Sebelum memulai pelajaran, seperti biasa ustadz itu memberikan motifasi kepada santrinya agar giat dan sabar dalam menuntut ilmu. Ustadz Marzuki namanya, beliau mengatakan, “Kalian beruntung berada di sini, mengapa? Karena, secara tidak langsung kalian adalah orang yang dipilih oleh Al Marhum Mu’allim untuk meneruskan perjuangannya. Jadi, belajarlah dengan serius dan sabar dalam menuntut ilmu, karena hanya orang-orang yang mau serius dan sabar saja yang bisa berhasil dalam perjuangannya. Ingat cerita tentang Nabi Sulaiman, beliau pernah disuruh memilih oleh Allah, harta atau ilmu, Nabi Sulaiman dengan tegas menjawab “Ilmu”. Dengan ilmu yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman, akhirnya beliau dikaruniai sebuah kerajaan besar, harta yang berlimpah, bahkan beliau diberi kemampuan berbicara dengan semua jenis binatang. Nah, jika kita sudah mendapatkan ilmu, apapun yang diinginkan mudah saja kita dapatkan.”

Rizki tertegun mendengar kata-kata Ustadz Marzuki, tanpa terasa kata-kata itu masuk ke relung hatinya.

***

Udara malam begitu sejuk. Karena semua temannya sudah tertidur lelap, tinggal Rizki sendiri. Sambil merebahkan tubuhnya di kasur, lamunannya kembali melayang-layang di udara, kali ini bukan teman-temannya di kampung halaman yang menjadi topik lamunannya.

“Tidak terasa sudah tiga bulan aku di sini, apa yang aku dapatkan? Tidak ada.” Fikirannya kembali menerawang ke langit-langit asrama.

Ingin rasanya Rizki berhenti dari pondok, tapi apa kata ayah dan ibunya nanti. Selama tiga bulan terakhir ini sudah ada 10 orang santri yang berhenti, “Ngga tahan”, kata mereka.

Terus, apakah aku juga harus menjadi orang ke-11 yang tereleminasi dari cita-cita Mu’allim untuk meneruskan perjuangannya. Cita-cita Mu’allim.. Rizki kembali teringat akan kata-kata Ustadz Marzuki, “Kalian sudah dipilih oleh Mu’allim untuk meneruskan perjuangannya”.

Rizki tersenyum, mungkin semua ini sudah menjadi jalan hidupnya sebagai salah satu penerus tongkat estafet dari Mu’allim. “Ya, ini adalah penjara suci dan aku harus bisa melewatinya dengan penuh perjuangan dan kesabaran hingga selesai. Aku harus bisa.. Aku harus bisa.. Aku pasti bisa..”

Rizki sudah siap menyambut hari esok dengan seabregi kegiatan dan akan dia lalui dengan penuh semangat. Malam itu menjadi saksi bisu untuk awal perjuangan Rizki. (*)

Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved