Penjara Suci

Ketika itu UN sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya saja lagi. Vina adalah salah satu sahabat terbaik Rizki

Penjara Suci
BPOST GROUP/DENY
Ilustrasi

Oleh: Muhammad Anwar

“VIN, setelah lulus nanti kamu pengen melanjutkan sekolah ke mana?” tanya Rizki pada sahabatnya ketika mereka sedang berada di ruang kelas.

Ketika itu UN sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya saja lagi. Vina adalah salah satu sahabat terbaik Rizki, di sana juga ada Wahyu dan Adit, mereka empat sahabat yang tak terpisahkan. Ke mana-mana mereka selalu bersama, sejak kelas VII SMP hingga sekarang.

“Aku pengen sekolah yang dekat-dekat sini aja, biar nggak terlalu jauh, kamu Riz.. pengen nyambung sekolah ke mana?” Tanya vina kepada Rizki.

“SMA maksudmu. Aku pengen nyambungnya ke pesantren biar jadi orang yang tahu banyak tentang agama,” katanya, padahal dalam benaknya pengen menjadi orang yang dikagumi banyak orang karena ilmunya.

Rizki terobsesi pengen ke pesantren karena sering mendengar cerita bahwa orang-orang pesantren punya banyak ilmu kanuragan, kesaktian, bahkan bisa berdialog dengan alam gaib. Namun hal itu masih dirahasiakan dari sahabat-sahabatnya dan biar nanti setelah keluar dari pesantren sahabat-sahabatnya langsung kagum padanya. Hehehe...

“Wah.. Ada yang mau jadi ustadz ne, he...”, Adit menertawakan Rizki yang dianggapnya pengen menjadi ustadz, padahal mereka bukan dari sekolah agama. Madrasah maksudnya.

“Eh, kalian sendiri mau melanjutkan ke mana?” tanya Rizki pada dua sahabatnya, Wahyu dan Adit.

“Kalau aku pengen ke SMK. Aku pengen seperti pamanku yang sekarang sudah buka usaha sendiri, biar setelah lulus nanti aku bisa langsung kerja. Dan kalau ada dana aku juga pengen buka usaha sendiri seperti pamanku.” Jawab Adit bangga.

Memang orang yang sekolah di SMK mereka belajar dan langsung praktik, hingga sebagian besar lulusan SMK tidak ada yang ngganggur.

“Wah.. Perencanaan masa depan yang mantap, tapi aku pengen ke SMA aja sama dengan Vina, soal rezki sudah ada yang ngatur,” bisa juga wahyu ngomong kaya gitu padahal biasanya ngibulin kawan-kawannya doang.

“Sok lu Yu..”, kata Rizki.

Hahahahaha... Suara derai tawa dari Rizki dan sahabat-sahabatnya.

“Rizki! Woi.. Ngapain lu ngelamun.. Senyum-senyum sendiri lagi, hadehh..” ternyata cerita tadi adalah bagian dari lamunan Rizki ketika bersama sahabat-sahabatnya di sekolahannya yang dulu. Sambil senyum-senyum lagi, kaya orang sinting aja, he..

“Rizki, tuh dipanggil Ustadz..”

***

Minggu pertama di pondok pesantren membuatnya bete, kenapa tidak, situasi pondok pesantren tidak seperti apa yang dia bayangkan. Tidak ada cewe. Tidak ada adu kesaktian, jampi-jampi yang bisa bikin orang jatuh hati setengah mati, bahkan selama seminggu berada di pesantren Rizki tidak pernah menemukan adanya ustadz apalagi santri yang sedang berdialog dengan jin. Yang ada hanyalah salat berjemaah lima waktu, kalo sampe ada yang absen bakal dipangil ke ruang OSIS. Di sana mereka akan diadili.

Di kelas, belajarnya menggunakan huruf Arab melayu. Arab gundul (kitab kuning) baru digunakan ketika sudah berada di tahun kedua dan seterusnya. Tahun pertama dinamakan tajhizi (persiapan) dan enam tahun selanjutnya adalah wustha dan ‘ulya, tiap hari kerjaannya menghafal dan menghafal, fa’ala fa’alu kepala ngalu.

Pengen rasanya sekolah seperti teman-temannya, entah di SMA atau di SMK. Akhirnya Rizki tertidur dalam lamunannya.

***

Alhamdulillahil-ladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wailaihin-nusyuur..

Seperti hari-hari biasa, suara dari mikrofon terdengar merdu mengalun-alun memecah keheningan malam. Satu tanda seluruh santri sudah harus bangun dari tidurnya guna memulai seabreg kegiatan.

“Teman-teman santri, waktu sudah menunjukkan pukul 04.00, jadi sekitar 30 menit lagi waktu bersiap-siap ke musala akan habis. Kepada ketua-ketua asrama agar bisa membangunkan anak buahnya, dan bagi santri yang sudah bangun agar bisa membangunkan teman-temannya, sekian terima kasih. Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aali Sayyidinaa Muhammad. Terus terdengar alunan syair maulid. Kembali terdegar suara dari mikrofon yang bersumber dari ruangan induk musala.

Tidak lebih dari 30 orang yang menjadi penghuni asrama Babus-Salam, cukup padat. Asrama-asrama lain juga begitu, itu sudah menjadi keputusan kepala bagian pengasaramaan. Ya tentu saja tidurnya menggunakan dipan bertingkat, jadi tidak terlalu padat.

Mendengar seruan satu santri, Said, semua penghuni asrama Babus-Salam langsung berhamburan, takut kalo-kalo terlambat datang ke musala, termasuk Rizki.

“Santri yang sudah berada di musala agar segera menyusun safnya, yang kosong agar segera diisi, dan bagi yang masih di luar musala, baik yang lagi berwudu maupun yang masih di jalan kami hitung satu hingga sepuluh dari sekarang.”

“Wahid, isnan, tsalasah, arba’ah, khamsah, sittah, sab’ah, tsamaniyyah, tis’ah, ‘asyarah...” Sontak seluruh santri menghitung dari satu hingga sepuluh, dengan irama tentunya.

“Waktu habis,” seru ketua santri yang sudah siap memimpin kegiatan rutinitas setiap subuh.

A’udzubillahi minas-syaithanir-rajiim, bismillahir-rahmanir-rahiim.. Serentak seluruh santri yang ada di musala memulai tadarus Alquran, hal ini berlangsung hingga tiba waktu subuh.

***

Tak terasa sudah sebulan Rizki berada di pesantren, selama itu pula Rizki masih belum menemukan apa yang diharapkannya. Suasana kelas sedikit demi sedikit mulai terlihat ramai dengan berdatangannya santri-santri.

Rizki masih saja melamunkan tentang teman-temannya di kampung halamannya. Tidak berapa lama seorang ustadz memasuki kelas Tajhizi D, kelasnya Rizki.

Sebelum memulai pelajaran, seperti biasa ustadz itu memberikan motifasi kepada santrinya agar giat dan sabar dalam menuntut ilmu. Ustadz Marzuki namanya, beliau mengatakan, “Kalian beruntung berada di sini, mengapa? Karena, secara tidak langsung kalian adalah orang yang dipilih oleh Al Marhum Mu’allim untuk meneruskan perjuangannya. Jadi, belajarlah dengan serius dan sabar dalam menuntut ilmu, karena hanya orang-orang yang mau serius dan sabar saja yang bisa berhasil dalam perjuangannya. Ingat cerita tentang Nabi Sulaiman, beliau pernah disuruh memilih oleh Allah, harta atau ilmu, Nabi Sulaiman dengan tegas menjawab “Ilmu”. Dengan ilmu yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman, akhirnya beliau dikaruniai sebuah kerajaan besar, harta yang berlimpah, bahkan beliau diberi kemampuan berbicara dengan semua jenis binatang. Nah, jika kita sudah mendapatkan ilmu, apapun yang diinginkan mudah saja kita dapatkan.”

Rizki tertegun mendengar kata-kata Ustadz Marzuki, tanpa terasa kata-kata itu masuk ke relung hatinya.

***

Udara malam begitu sejuk. Karena semua temannya sudah tertidur lelap, tinggal Rizki sendiri. Sambil merebahkan tubuhnya di kasur, lamunannya kembali melayang-layang di udara, kali ini bukan teman-temannya di kampung halaman yang menjadi topik lamunannya.

“Tidak terasa sudah tiga bulan aku di sini, apa yang aku dapatkan? Tidak ada.” Fikirannya kembali menerawang ke langit-langit asrama.

Ingin rasanya Rizki berhenti dari pondok, tapi apa kata ayah dan ibunya nanti. Selama tiga bulan terakhir ini sudah ada 10 orang santri yang berhenti, “Ngga tahan”, kata mereka.

Terus, apakah aku juga harus menjadi orang ke-11 yang tereleminasi dari cita-cita Mu’allim untuk meneruskan perjuangannya. Cita-cita Mu’allim.. Rizki kembali teringat akan kata-kata Ustadz Marzuki, “Kalian sudah dipilih oleh Mu’allim untuk meneruskan perjuangannya”.

Rizki tersenyum, mungkin semua ini sudah menjadi jalan hidupnya sebagai salah satu penerus tongkat estafet dari Mu’allim. “Ya, ini adalah penjara suci dan aku harus bisa melewatinya dengan penuh perjuangan dan kesabaran hingga selesai. Aku harus bisa.. Aku harus bisa.. Aku pasti bisa..”

Rizki sudah siap menyambut hari esok dengan seabregi kegiatan dan akan dia lalui dengan penuh semangat. Malam itu menjadi saksi bisu untuk awal perjuangan Rizki. (*)

Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved