Breaking News:

Serambi Ummah Edisi 733

DENGAN nada bicara yang pelan seorang selebritas mengungkap kehidupan pribadinya,

Editor: Dheny
Serambi Ummah Edisi 733
Serambi Ummah no 733

Assalamualaikum wr wb

DENGAN nada bicara yang pelan seorang selebritas mengungkap kehidupan pribadinya, termasuk mengenai konflik yang dialami dengan orangtua dan keluarganya. Beberapa hal yang bersifat pribadi diungkapkan dan langsung disambut tepuk tangan penonton.

Itulah gambaran yang terjadi dalam sebuah sesi hipnotis yang tayang di sebuah stasiun televisi swasta negeri ini. Seolah latah dan tanpa mempertimbangkan etika, beberapa stasiun televisi berlomba menayangkan acara yang diisi adegan hipnotis.

Bahkan acara musik pun juga diselingi hipnotis yang lagi-lagi hanya mengumbar masalah pribadi si ‘korban’. Terlepas dari ada unsur rekayasa atau tidak dalam tayangan tersebut, tapi satu hal yang sering membuat miris bahwa hipnotis dipakai mengungkap masa lalu atau aib seseorang.

Sabda Nabi, seolah dilupakan demi rating semata. “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Sesiapa yang membantu keperluan saudaranya maka Allah akan memenuhi keperluannya. Sesiapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan sesiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”.

Praktik hipnotis inilah yang kami angkat dalam Rubrik Ihwal pada Serambi Ummah edisi kali ini. Kami mengupasnya dari sisi keagamaan, sosial, psikologis dan kepekaan media.

Kemudian di Rubrik Dalil, kami angkat mengenai banyaknya pesan berantai via SMS atau BBM yang kini marak. Tanpa bermaksud mengabaikan informasi yang dikabarkan, tak sedikit kabar melalui dunia maya yang hanya bersifat isu, atau ‘berita konon katanya’. Informasi sumir semacam ini bisa menyerempet pada masalah fitnah dan pencemaran nama baik.

Atau seperti kasus banjir di Banjarbaru beberapa waktu lalu. Berawal dari BBM yang terus diforward, masyarakat justru makin panik ketika tersebar informasi adanya jembatan putus, kemacetan ratusan kilometer dan balita yang tewas hanyut. Padahal dalam kenyataannya informasi tersebut tidak benar.

Pesan dari Muhdi SAg dari Fakultas Tarbiyah di IAIN Antasari Banjarmasin, layak untuk disimak. “Setiap pesan itu harus kita cermati lebih dalam, apakah rasional atau tidak, tentu harus merasionalkan sesuai dengan Alquran dan akal,” kata Muhdi.Masih menurut dia, kalau perlu pesan tersebut jangan disebarkan cukup dijadikan sebagai pengingat bagi diri kita kalau memang mengandung kebaikan.

Kemudian di bagian akhir Serambi Ummah, kami angkat kisah menarik mengenai Islam di Chili, sebuah negera di kawasan Amerika Latin. Meski merupakan minoritas, tapi Islam di negara tersebut cukup menonjol. Apalagi setelah club sepakbola Deportivo Palestino mengganti mengganti nomor ‘1’ di kaus klub untuk tahun 2014 dengan mengambil bentuk peta Palestina. Selain ketiga tulisan tersebut, rubrik lain juga kami sajikan dengan disertai pantauan dan analisa kondisi terbaru, sehingga diharapkan bisa memberi manfaat bagi pembaca.

Wassalamualaikum wr wb

Berita Populer
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved