Breaking News:

Wasiat Nabi Muhammad

SUATU saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbincang dengan Abu Dzar al-Ghifari.

Editor: Dheny
Wasiat Nabi Muhammad
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H Muhammad Tambrin

SUATU saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbincang dengan Abu Dzar al-Ghifari. Hingga al-Ghifari berkata kepada Nabi: “Ya Rasulallah, berwasiatlah kepadaku.”

Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, karena ia adalah pokok segala urusan.”

Wasiat yang dimaksud antara lain; taqwallah, dzikrullah, membaca Alquran, jangan banyak tertawa, jihad, mencintai orang miskin dan seterusnya.

Takwa adalah pangkal segalanya. Namun, takwa itu bagaikan konsep teoritis yang harus diterjemahkan biar mudah untuk diraih. Bagi kaum awam, takwa itu cukup sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan.

Bagaimanakah caranya mengikat hati dalam ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Sedangkan hati kita sering tersangkut dalam kepentingan duniawi? Bagaimanakah caranya? Rasulullah tidak menerangkan tentang hal ini, Abu Dzar pun tidak menanyakan. Mungkin bagi dia takwa adalah perkara yang jelas. Namun, marilah kita ikuti percakapan selanjutnya.

Abu Dzar pun kembali bertanya: “Ya Rasulullah, tambahkanlah wasiat apalagi yang penting setelah takwa”. Rasulullah menjawab “Hendaklah engkau senantiasa membaca Alquran dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu di bumi dan simpananmu di langit.” Ingatlah kita pada doa khatmil Quran yang sangat masyhur.

Keduanya bagaikan deposito bagi diri kita, bunganya dapat dipergunakan untuk menerangi perjalanan kita di dunia, sedangkan tabungannya adalah kekayaan yang dapat mengamankan kehidupan di akhirat nanti.

Abu Dzar merasa masih ada hal lain yang hendak disampaikan kepada Nabi Muhammad, ia pun berkata meminta “Ya Rasulallah, tambahkanlah.” Rasulullah menjawab “Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”

Tertawa adalah hal yang kelihatan sangat sepele, tetapi Rasulullah melihat itu sebagai sesuatu yang memiliki dampak psikologis dalam jiwa manusia. Karena kebanyakan manusia ketika tertawa akan melupakan segala kewajiban sebagai seorang hamba.

Halaman
123
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved