Breaking News:

Masjid Pertama di Pulau Sugara

Arsitektur rumah banjar berupa hiasan di tepian atap, dipadu unsur timur tengahnya pada bagian kubah

Editor: Dheny
BPOST GROUP/AM RAMADHANI
Unsur rumah tradisional berupa hiasan di tepian atap berpadu dengan unsur timur tengah membuat arsitektur Masjid Al-Manar menjadi cukup unik. 

SEBUAH kubah besar dan satu menara menjulang tinggi, terlihat dari seberang Sungai Alalak, Kabupaten Baritokuala. Kubah-kubah kecil di sudut-sudut bangunan, kian menambah keindahan masjid di Pulau Sugara ini.

Arsitektur rumah banjar berupa hiasan di tepian atap, dipadu unsur timur tengahnya pada bagian kubah, dengan dominasi warna hijau, memberi sentuhan unik pada bangunan ibadah ini.

Itulah Masjid Al-Manar di Pulau Sugara, Kecamatan Alalak. Bangunan yang ada sekarang merupakan hasil rehab kali ketiga. Bahkan saat ini pun masih terus dilakukan pembenahan, di antaranya penambahan tempat wudu di bagian depan.

Masjid Al-Manar dibangun sekitar 1958 dengan konstruksi kayu. Pada 1991, bersamaan terpilihnya H Slamet Riyadi sebagai ketua pengurus masjid, dimulailah rehab masjid dengan konstruksi beton dengan luas keseluruhan 20 X 18.

Pembangunan masjid. murni dari swadaya masyarakat. Tanahnya pun dari wakaf warga Pulau Sugara. Mulai awal berdiri sampai rehab ketiga pada 1991, panitia tidak kesulitan mendapatkan dana untuk keperluan rehab.

“Masyarakat di Pulau Sugara, khususnya para pengusahanya, sangat peduli atas pembangunan masjid,” kata Slamet.

Apalagi, lanjutnya, pada saat itu hanya Masjid Al-Manar yang ada di tiga pulau (Sugara, Suwangi dan Pulau Alalak). Pengumpulan dana untuk pembangunan, dirasa sangat mudah.

Baru dalam sepuluh tahun terakhir ini, Pulau Suwangi dan Pulau Alalak memiliki masjid. Dulunya, warga ketiga pulau itu melakukan salat Jumat ke Masjid Al-Manar. Termasuk, warga dari Berangas.

Sebelum ada jembatan, warga Berangas pergi ke Masjid Al Manar menggunakan kelotok. Masjid ini menjadi tempat salat Jumat bagi warga yang melintasi Sungai Alalak.

Menurut Slamet lagi, dulunya Masjid Al-Manar tak mampu menampung seluruh jemaah Jumat yang datang dari tiga pulau dan Berangas.

“Jemaah salat Jumat cukup tertampung karena sudah banyak masjid lain,” paparnya.

Kakek dengan 11 cucu ini menambahkan, dalam tahap pembangunan maupun rehab pencarian dana, dilakukan melalui edaran amplop kepada warga. Ada juga yang memberikan wakaf secara langsung.

Karena itu, pada saat pembangunan masjid, seratus persen menggunakan dana masyarakat. Tapi pada saat rehab masjid, bukan saja dana masyarakat, tapi juga dana dari Pemkab Batola dan bantuan bupati.

Sedangkan kegiatan di Masjid Al-Manar, pada Minggu malam diselenggarakan ceramah berkaitan dengan materi syariat dan marifat. Pada Selasa malam, dilaksanakan pembacaan maulid habsy.

Untuk hari-hari besar keagamaan. di antaranya peringatan Isra Mikraj ataupun maulidan, dilaksanakan kegiatan majelis dengan mendatangkan penceramah dari luar. (am ramadhani-alpri w)

Berita Populer
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved