Breaking News:

Rumus Canggih Guru Matematika

AKU, dengan gaya dinginku membuat setiap orang yang mendekat juga ikut membeku sepertiku.

Rumus Canggih Guru Matematika
Ilustrasi

Gedung sekolah yang tak gedongan di poles dengan cat warna cerah seperti pink, ungu dan tak ketinggalan warna hijau.

Aku duduk di bangku panjang didepan kelas II A tepat dikoridor tengah yang dapat melihat langsung seluruh lapangan. Sekolah ini tidak terlalu luas, sejauh mata memandang hanya ada beberapa gedung.

Sebelah kiriku menghadap jalan raya adalah kantor para guru tepat di depanku adalah sebuah bangunan yang dulunya kantin. Sedang di sebelah kiri kantin adalah WC. Sekelebat pikiran masa lalu itu berangsur-angsur kembali seperti sebuah film yang kembali diputar.

Namun, suasananya cukup sepi serasa kehilangan gairahnya. Hampa Itulah kesimpulanku.

Lima tahun lalu cita-citaku menjadi guru matematika menggebu-gebu. Saat ini pupus sudah. Teori kemungkinan aku manjadi guru matematika satu banding tak terhingga.
 Aku benar-benar melepaskannya karena hal yang biasa terjadi di negeri ini, karena biaya.

Telah banyak yang berubah, wajah guruku beberapa kali aku lihat di televisi. Bukan sebagai kepala sekolah bukan pula sebagai guru Matematika. Tapi sebagai wakil ketua DPR, kala itu aku sedang menonton beliau sedang menjelaskan anggaran APBD.

Tidak hanya itu di beberapa spanduk juga terpampang poto beliau. Satu hal yang ingin aku sampaikan, “aku telah kehilangan cita-cita menjadi guru Matematika sepertimu, Pak”.

***

Pagi mejelang siang, deretan panjang barisan mahasiswa mulai memenuhi jalan-jalan. Akan ada longmarch yang finish-nya di gedung DPR. Ini adalah aksi penolakan kenaikan BBM. Ratusan mahasiswa ikut aksi tersebut, tak terkecuali aku.

Ya, aku tercatat sebagai mahasiswi di sebuah universitas di kota ini. Aku terpaksa kuliah sambil bekerja. Ternyata teori peluang itu telah merasuk dan mengkristal di alam bawah sadarku.

Hingga aku merasa digiring untuk meraih cita-citaku yang lain. Jika tidak guru Matematika, menjadi tenaga kesehatan masyarakat pun jadi. Man jadda wajada.

Dengan lantangnya kami meneriakan turunkan harga BBM... Untuk pertama kalinya aku berhadapan sebagai seorang yang berseberangan dengan guru yang menginspirasiku.

Aku sangat paham sistem sekarang yang kapitalis lah yang membentuk beliau menjadi seperti itu. Tapi, entah aku lebih menyukai beliau yang dulu. Guru matematikaku. (*)

Tags
Cerpen
Berita Populer
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved