Rumah

Sudah lama ia juga memimpikan ingin memiliki rumah sendiri. Hasil dari jerih payah dan keringatnya.

Rumah
BPOST GROUP/DENI

“Lho... Kok abang malah melamun di sini? Bukannya kerja cari duit...” Larmi, istrinya, tiba-tiba datang mengagetkannya. Usman menatap dingin sesaat. Lalu ia bangkit dan meninggalkan Larmi. Perempuan yang sudah dinikahinya tujuh tahun yang lalu itu adalah tipe perempuan cerewet dan banyak menuntut.

“Abang mau ke mana?”

Usman tak menyahut. Ia pun tak punya tujuan. Pikirannya benar-benar kalut dan bikin pusing. Kenapa sih setiap orang berumah tangga, rumah seperti sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh orang suami? Jika tidak punya, maka tetangga akan selalu menanya dan bergunjing akan hal itu.

“Awas kalau pulang tak bawa duit...!” teriak Larmi.

***

“Tiga ratus ribu perbulan.”

Satu-satunya cara untuk meringankan beban pikirannya tentang rumah adalah engontrak saja. Toh, biar para tetangga tak lagi menggunjing dirinya. Orang yang menikahapalagi sudah mempunyai anak seolah aib jika masih menumpang di rumah mertua. Tetapi, jawaban haji Madun membuat hati Usman mengkerut. Tiga ratus ribu?

“Nggak bisa kurang lagi nih, Ji?”

“Itu sudah murah, Man. Kalau sama orang lain biasanya saya kasih tiga ratus lima puluh ribu perbulan,”

Usman diam berpikir.

Halaman
1234
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved