Rumah

Sudah lama ia juga memimpikan ingin memiliki rumah sendiri. Hasil dari jerih payah dan keringatnya.

Rumah
BPOST GROUP/DENI

“Mau nggak? Mumpung masih ada yang kosong!” Haji Madun seolah mendesak. Strategi marketing untuk membuat klien tak terlalu berpikir.

Usman menjadi kikuk. Ia memang membutuhkan rumah itu segera. Tetapi, tiga ratus ribu itu bukanlah uang yang sedikit buatnya. Uang sebanyak itu bisa menjadi biaya hidupnya selama setengah bulan.

“Saya pikir-pikir dulu, Ji,” kalimat itu saja yang bisa meluncur dari biibir Usman.

“Jangan lama-lama, karena banyak yang juga mau mengontrak rumah itu.”

“Dua hari.”

“Ah kelamaan. Saya kasih waktu satu hari saja.”

Dengan lemah Usman mengangguk juga. Tambah satu lagi beban pikiran yang harus ditanggungnya. Seandainya dia punya banyak uang tentu masalahnya tak akan serumit ini dipikirannya.

***

Walau mertuanya belum pernah bicara serius, namun Usman dapat merasa sikap mereka sekarang mulai berubah. Lebih dingin dan jarang berbicara lagi padanya. Mungkin mereka juga mulai terganggu dengan gunjingan-gunjingan warga.

Usman merebahkan tubuh di samping Larmi yang telah lelap. Matanya sulit terpejam. Pikirannya terasa buntu untuk mencari jalan keluar. Sebenarnya ia ingin berbagi masalah itu dengan istrinya, tetapi melihat pembawaan istrinya yang cerewet dan penuntut, ia urungkan niat.

Halaman
1234
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved