Boleh Main Game, Asal

GAME boleh saja untuk hiburan anak. Asalkan tidak berlebihan. Karena itu orangtua harus membatasi waktu bermainnya.

Boleh Main Game, Asal
DOK BPOST GROUP

GAME boleh saja untuk hiburan anak. Asalkan tidak berlebihan. Karena itu orangtua harus membatasi waktu bermainnya.

Supaya anak tidak lupa waktu belajar, salat dan lainnya,” kata Talhah satu ustadz di Banjarmasin. Selain itu, sambung dia, agar anak  tidak menjadi penyendiri atau soliter.

Menurut lelaki yang juga Lurah Pekapuran Laut ini, tugas utama anak adalah belajar. Tetapi tentu harus ada selingan agar pikirannya fresh kembali. “Kalau kita menyuruh anak meninggalkan game atau internet, ya nggak bisa. Sudah zamannya seperti ini,” ucap Talhah.

Selain orangtua, guru di sekolah juga berperan melindungi anak dari pengaruh negatif game. Salah satunya dengan memberikan pekerjaan rumah (pr) tiap hari.

“PR tidak harus banyak. Asal ada PR sehingga anak tidak  bermain game saja,” ujarnya.

Sebab, main game terlalu lama akan membuat anak tidak peduli pada lingkungan. Anak asyik dengan dirinya sendiri. “Dipanggil pun kadang anak tidak menyahut. Nah, itu yang tidak diinginkan,” sebut Talhah.

Cara lainnya, lanjut dia, anak-disalurkan ke cabang olahraga sesuai bidang dan bakatnya. Seperti futsal dan karate. “Badannya jadi sehat dan kuat. Temannya pun bertambah,” kata Talhah.

Namun begitu, dia mengingatkan agar anak jangan sampai lupa kewajibannya, salat lima waktu dan belajar mengaji. “Untuk itu, orangtua perlu mengawasi dan mengarahkan anak,” ujarnya.

Bagi orangtua yang punya mobil, lanjut Talhah, sebaiknya mengajak anak rekreasi pada akhir pekan atau satu bulan sekali. Hal itu akan menimbulkan semangat baru pada anak.

Secara terpisah, Kurniawan (40), karyawan perusahaan tambang batu bara yang tinggal di Kota Banjarbaru, sering mengajak anaknya ke pantai. “Seharian bisa bermain sepuasanya dengan alam. Daripada main game yang tidak jelas manfaatnya,” ucap Kurniawan.

Selain itu, lanjut Kurniawan, dua buah hatinya ikut latihan karate seminggu dua kali. “Saya bukan orangtua anti game, tapi ketika anak main game pasti saya batasi,” tegas lulusan FISIP Unlam Banjarmasin itu. (edi nugroho-mulyadi danu saputra)

Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved