Breaking News:

Ucapkan Salam Tanda Kasih Sayang

MENGUCAPKAN salam ketika bertemu teman atau saudara, sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia.

BANJARMASIN POST GROUP/APUNK
Ilustrasi 

Kemudian, mengucapkan salam merupakan amalan yang terbaik dalam Islam. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang pria bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam: “Apakah amalan yang paling baik dalam Islam?” Beliau menjawab:

“Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang telah kamu kenal maupun yang belum kamu kenal”. (HR. Al Bukhari - Muslim).

Mengucapkan salam juga dapat memberikan  berkah dan kebaikan dari Allah, Sebagaimana firman-Nya: “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya”. (QS An-Nuur [24]:61)

Mengucapkan salam termasuk di antara perbuatan yang bisa memasukkan pelakunya ke dalam surga. Abu Yusuf Abdullah bin Salam Radhiallaahu anhu berkata; saya pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan, lakukan silaturrahim, dan shalatlah ketika orang lain tidur malam, maka engkau akan masuk ke surga dengan selamat.” (HR. At Tirmidzi, dia berkata: “hasan shahih”).

Sedangkan mengenai salam kepada anak kecil, Al-Mutawalli berkata, “Seandainya seseorang mengucapkan salam kepada anak kecil, maka ia tidak wajib menjawabnya; karena anak-anak tidak termasuk orang yang dibebani kewajiban.” Apa yang dikatakannya ini shahih.  Tetapi adabnya dan yang dianjurkan ialah menjawabnya.

Menurut al-Qadhi Husain dan sahabatnya, al-Mutawalli, seandainya anak-anak mengucapkan salam kepada orang yang sudah baligh, apakah orang yang sudah baligh tersebut wajib menjawabnya? Mengenai hal ini ada dua pendapat yang bertumpu pada keshahihan keislamannya.

“Jika kita mengatakan, “Keislamannya shahih,” maka salamnya seperti salam orang yang sudah balig, dan wajib menjawabnya. Jika kita mengatakan, “Keislamannya tidak shahih,” maka tidak wajib menjawab salamnya, tetapi dianjurkan,” kata Ustadz Kamil. (rahmadhani-kamardi)

Editor: Sudi
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved