Sayang Bukan Berarti Memanjakan

Titin mengaku mengajak dua anaknya sejak duduk di bangku TK agar disiplin. Satu cara yang dilakukan

Sayang Bukan Berarti Memanjakan
BPOST GROUP/EDI NUGROHO

MENYAYANGI anak tentu sangat dianjurkan. Namun, kasih sayang baik dalam bentuk kata-kata maupun perbuatan dari orangtua terhadap anak jangan sampai membuat buah hati manja. Apalagi, jika sampai semua permintaan anak dituruti tanpa melihat situasi dan kondisi.

Titin (34), mengaku mengajak dua anaknya sejak duduk di bangku TK agar disiplin. Satu cara yang dilakukan meminta anak langsung memasukkan ke rak sepatu sepulang sekolah. Bahkan, tiga anaknya sudah terbiasa membereskan meja makan usai makan bersama. “Kalau melatih disiplinnya sudah dewasa nanti susah,” ucap warga Jalan Gatot Subroto Banjarmasin ini.

Menurut Ustadzah Hajah Noorsehat, sikap manja sebagian besar tumbuh dalam diri anak karena perilaku orangtua. Menurut dia, sifat manja muncul awalnya karena orangtua terlalu sayang kepada anak. Itu didukung oleh materi orangtua yang berlebihan atau berkecukupan. “Anak
minta itu langsung dibelikan. Minta ini langsung diusahakan. Sejak kecil anak tidak bisa berpikir, yang penting barang ada,” ucap Noorsehat.

Noorsehat khawatir, ketika orangtua dalam keadaan ekonomi yang kurang, anak sejak kecil sudah terbiasa manja. Semua tiba-tiba ada di hadapannya. Nah, saat itulah anak akan stres dan putus asa karena orangtua tak lagi bisa menuruti semua permintaannya. “Inilah pentingnya mendidik anak untuk hidup sederhana dan mandiri,” ucap Noorsehat.

Dia mengatakan, anak sebaiknya juga dididik untuk bisa menghargai apa pun pemberian orangtua atau dari orang lain. Hal ni demi melatih anak untuk bersyukur dan tidak meminta secara ‘paksa’ kepada orangtua agar keinginannya dituruti.

“Misalnya anak minta dibelikan sepeda merek tertentu. Sementara kemampuan orangtua hanya merek dengan harga di bawahnya. Alangkah lebih baik jika anak bisa mensyukuri pemberian orangtuanya tersebut,” ujarnya.

Sayang terhadap anak, menurut Noorsehat, juga perlu memperhatikan keselamatan anak. Misalnya anak minta dibelikan sepeda motor, padahal usia anak belum cukup. Akhirnya karena rasa sayang terhadap anak sangat besar, dibelikanlah sepeda motor tersebut.

“Usia masih SD dan sudah nekad mengendarai sepeda motor di jalan raya. Risikonya sangat besar. Anak belum cukup umur, emosi masih labil dan tak punya surat izin mengemudi (SIM),” ucapnya.

Rasa sayang terhadap anak, juga perlu diberikan dengan cara memperhatikan faktor keselamatan, kesehatan dan kejiwaan anak. Anak Misalnya anak sering minta dibelikan duplikat senjata api. Padahal, permainan itu sangat mengajarkan kekerasan. “Anak terkadang mengira menembak orang seperti di film itu hal biasa yang boleh dilakukan semua orang,” ucapnya.

Noorsehat menghimbau agar orangtua tak langsung menuruti semua permintaan anak. Beri waktu selang tiga sampai satu minggu untuk membelikan apa yang diminta anak. Cara ini akan melatih anak untuk punya sifat sabar.

“Katakan ke anak, Sabar ya Nak.Umi sedang mengumpulkan uang untuk membeli mainan yang diminta. Mudah-mudahan dalam satu minggu ini dapat uangnya,” ucap Noorsehat.

Dia juga prihatin seorang anak SMP atau SMA masih belum bisa menaruh sepatu pada tempatnya. Handuk tak dijemur usai mandi. Bahkan, baju sekolah langsung dilempar ke kursi atau ranjang. “Ini adalah buah pembiaran sikap manja sejak kecil,” ucapnya.

Noorsehat menyakinkan anak yang sejak kecil terbiasa hidup teratur dan mandiri, hidupnya ke depan akan cenderung sukses. Anak mandiri lebih mudah beradaptasi dan mudah bergaul dengan orang lain. (edi nugroho-m royan n)

Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved