Breaking News:

Sering Terabaikan dalam Salat

MENURUT syariat, praktik salat harus sesuai petunjuk tata cara Nabi Muhammad, umat Islam diperintahkan untuk

Editor: Dheny

Oleh: H Muhammad Tambrin
Kepala kanwil Kemenag Kalsel

MENURUT syariat, praktik salat harus sesuai petunjuk tata cara Nabi Muhammad, umat Islam diperintahkan untuk mendirikan salat, karena menurut Surah Al-Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar:

"...dirikanlah shalat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain" (QS Al-Ankabut: 45).

Ada enam hal sering diabaikan oleh seseorang ketika salat. Karena keenam hal tersebut tidak termasuk rukun dan syarat salat, yang memang tidak mempengaruhi sah tidaknya salat. Namun jika diperhatikan hal tersebut, akan menjadikan salat lebih bernilai dari sekadar tuntutan syariah.

Pertama, semangat atau gairah menjalankan salat ketika waktu telah tiba. Karena sejatinya Allah SWT tidak senang jika hambanya bermalas-malasan, apalagi bermalas-malasan dalam mengerjakan salat.

Firman Allah: “Allah SWT sebagai Tuhan Penguasa Alam, Pemilik Jagad Raya seisinya, Pemberi Rahmat atas segala kehidupan di dunia, sangat berkuasa dan berhak untuk memanggil siapapun, kapanpun dan dimanapun juga. Namun demikian, Allah SWT hanya memanggil hambanya yang muslim melalui salat lima kali dalam sehari. Maka, wajar jika Allah SWT melaknat hambanya yang acuh tak-acuh dan tidak menghiraukan panggilanNya. Seperti halnya orang tua yang merasa jengkel kepada anaknya, jikalau anak itu tidak mengindahkan panggilannya. Tetapi Allah SWT akan mengapresiasi siapapun hamba yang segera merespon panggilan Nya”

Kedua, untuk beberapa waktu sementara, hendaknya ketika salat seseorang mengosongkan hati dari berbagai kesibukan keduniawian (faraghi qalbin). Karena salat merupakan ruang perjumpaan hamda dengan Allah SWT. Sudah seharusnya seorang hamba membawa serta hati dan kesadarannya menghadap Sang Tuhan Yang Maha Kuasa, dan beberapa saat meninggalkan urusan dunianya.

Jika diangan-angan, sesungguhnya perbandingan waktu 24 jam yang diberikan Allah SWT kepada manusia dalam sehari dan 5 menit kali lima kali sebagai waktu yang dihabiskan untuk salat sangatlah kecil. Namun demikian, kebanyakan manusia merasakan yang lima menit ini sangatlah berat sekali. naudzubillahi mindzalik.

Ketiga, khusyu’, tempatnya di dalam hati. Khusyu’ bisa diterangkan dengan meniadakan berbagai hal yang tidak berhubungan dengan salat. Bahkan khusyu’ juga diartikan dengan menghadirkan segenap rasa dan jiwa kehadirat Allah SWT meskipun tidak termasuk syarat sah salat, khusyu’ dalam salat adalah wajib walaupun sekadar takbiratul ihram.

Dengan demikian berpikir segala macam keduniawiyan dalam salat sangat dilarang. Andaikan terpikirkan oleh seorang hamba dalam salatnya berbagai macam hal, seperti surga dan neraka maka yang demikian itu adalah makruh.

Begitu pula jika seseorang dalam salatnya hanya disibukkan oleh masalah fiqih yang menggelayuti dalam pikirannya ketika salat, hukumnya makruh. Karena berbagai macam kesibukan pikiran ini (neraka, surga, fiqih dan keduniawiyahan) menghalangi posisi hamba dengan Allah SWT.

Keempat. mengangan-angan makna (tadabburi qira’tin wa dzikrin) bacaan salat secaraglobal sebagai cermin dari kekhusyu’an dalam salat. Artinya, seorang yang salat hendaknya mengerti makna inti dari apa yang dibaca dalam salat. Terutama dalam dzikir, minimal seorang hamba mengerti, bahwa bacaan tasbih dan tahmid itu bertujuan mengagungkan Allah SWT.

Ini menjadi penting, karena menurut as-Syinwani dzikir itu dapat menarik pahala, jikalau mengerti makananya, kecuali bacaan Alquran dan shalawat. Sekalipun tidak mengerti arti kedua bacaan itu (Alquran dan shalawat) tetap mendapatkan pahala.

Kelima, selalu mengarahkan pandangan ke arah sujud (wa idamatu nadhari mahalli sujudihi) walaupun salat di depan Ka’bah, dan meskipun orang itu buta atau salat dalam keadaan gelap gulita. Karena hal ini akan menghantarkan hamba pada keskhusyu’an. Begitu pula dalam salat janazah, hendaknya tetap mengarahkan pandangan pada tempat sujud dan tidak menghadapkan pandangan kepada mayyit.

Keenam, berdzikir dan berdoa setelah salat secara lirih (zdikrun wa du’aun sirran ‘aqibaha), dan diperbolehkan secara lantang jika dilakukan untuk mengajari orang lain baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. (*)

Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved