Pelanggan yang Raja

Ndak karu-karuan saja kamu bikin rambut saya seperti zebra cross, waktu di awal kan sudah saya

Pelanggan yang Raja
BPost Group/Deni

“Iya Bang, adik saya mau operasi kepala karena tumor otak, kata dokter sebelum dibedah kepalanya harus dicukur dahulu.”

“Oh, berarti saya harus ke sana?”

“Iya, mohon dibantu ya, Bang!”harap gadis itu.

“Sebenarnya saya belum pernah mencukur keluar dari tempat ini, tapi tidak apa-apa kalau saya yang harus kesana.”

“Wah saya terima kasih banyak dan mohon maaf jadi akan merepotkan abang.”

Kebetulan tidak ada yang datang bercukur, Takim akhirnya menutup sementara lumbung duitnya itu,untuk melayani panggilan mencukur keluar, tokh rumah sakit yang dimaksud cuma beberapa ratus meter dari tempat itu.

***

Sabtu siang Lina tiba-tiba datang dengan air muka yang suram, nampak satu kesedihan menggurat. Entah kenapa ia begitu saja terpikir untuk mengungkap masalah pribadi yang baginya berat.

Mungkin sejak pertemuan pertama yang simpatik itu yang membuat gadis itu mempercayai Takim. kebetulan mereka hanya berdua dan Takim bersih-bersih tempat karena sebentar lagi mau tutup.

“Ada apa Lin kok tergesa-gesa?”

“Saya tidak sanggup, Bang!” begitu pula seketika berurai air mata Lina tak tertahankan.

“Duduk dahulu,”saran Takim melihat kegundahan Lina.

“Iya, terimakasih,”ujar Lina mau menurut.

“Hapus dulu air matamu, baru kamu bercerita”.

Setelah bisa menguasai emosi lina pun berucap,” Calon suami saya meninggal kecelakaan.”

“Hah, dimana kejadiannya?”

“Di luar kota saat sore sepulang kerja, tiba-tiba ada mobil box yang pecah ban dan menyeberang median jalan terus menabraknya,” cerita Lina.

“Saya turut sedih, selanjutnya bagaimana?”

“Padahal kami akan menikah bulan depan.”

“Duh,Tuhan” lenguh Takim, ia sendiri tak tau apa yang akan dikatakan.

“Lina banyak cerita tentang kamu,” kata Bapak Lina memulai kata-kata.

“Mohon maaf kalau saya ada salah.”

“Tidak, saya meminta kamu kesini karena saya ada satu permohonan.”

“Kalau saya memang bisa bantu, akan saya usahakan sebisanya.”

Makin yakin saja orang tua itu akan kebaikan pemuda yang telah diceritakan anaknya tempo hari.

“Mau kah kamu menikah dengan anak saya?” pinta Bapak itu.

Hal mana yang membuat Takim terdiam, bagaimana dia akan menolak atau menerima permintaan dari orang tua Lina.

Kemudian orang tua itu berkata lagi,” Lina anak perempuan saya satu-satunya, keempat saudaranya laki- laki semua, disisa umur saya ingin segera melihat ia menikah dan dengan lelaki yang baik tentunya.”

“Terima kasih atas kepercayaan kepada saya, tapi saya cuma orang yang merantau dari kampung mencari penghidupan, belum cukup uang saya untuk menikah,” beber Takim jujur saja dengan kondisinya.

“Bagi saya yang penting kamu setuju, masalah itu nanti kita bicarakan lagi,”

“Saya juga harus mengabarkan kepada orang tua saya di kampung.”

“Ya betul, kalau kamu mau menyambutnya saya terima kasih banyak, Nak!”

***

5 tahun kemudian...

Megah berdiri sebuah rumah gedung berlantai dua, bergaya mediterania dengan balutan warna dominan keemasan terletak di pinggir jalan besar. Takim dan istrinya tengah duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi, anak perempuan mereka yang berumur empat tahun duduk dipangkuan sang Bapak dengan manjanya.

Keluarga Takim telah berkecukupan materi, pernikahannya dengan Lina telah memberi berkat, Bapak Lina yang simpati dengan pribadi Takim, mau menyerahkan anaknya untuk dinikahi dan memberi modal untuk pekerjaan Takim.

Kalau dulu Takim bersusah payah menyewa tempat usaha, justru ia sekarang ia jadi tuan besar yang menyewakan beberapa ruko yang ia miliki. Sesuatu yang tidak terbayangkan oleh Takim sebelumnya, mengingatkan ia pada nasihat sang ibu ketika masih di kampung.

Ketika ia luntang-lantung di kota dan bertemu  Pak Dulah yang budiman dan perjumpaan dengan Lina adalah sesuatu yang Takim syukuri. (*)

Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved