Breaking News:

Menyemai Hidup

KULIHAT sudah seminggu ini dia mangkal di depan gerbang SD Pelita Harapan. Beberapa kali aku membeli dagangannya.

Menyemai Hidup
BPOST GROUP/DENI
Ilustrasi

“Benar, Mas. Saya banyak menabung. Toh,ini halal, dan ini adalah tekad saya waktu itu.”

“Bibi kok bisa? Padahal menyekolahkan anak sampai S2 itu biayanya besar sekali.”

“Ah, Mas kayak nggak tahu saja. Alhamdulillah sejak dulu dagangan saya ini banyak diincar para pembeli, hehe… Pas SMP-SMA, Alhamdulillah saya bisa membayar uang SPP mereka berdua. Tapi pas sudah masuk kuliah. Kedua anak saya Alhamdulillah dapat beasiswa.”

“Oh begitu ya, Bi. Nah, kalau kedua anak Bibi sekarang sudah bekerja setelah lulus kuliah S2 nya?”

“Sudah, Alhamdulillah.”

“Terus, kenapa Bibi masih bekerja? Bukannya anak Bibi pasti punya banyak uang?”

“Iya benar sekali, Mas. Saya malah disuruh berhenti bekerja.”

“Terus, Bi? Kenapa Bibi nggak menurut apa kata anak Bibi?”

“Ya bosan Mas kalau di rumah saja. Ini kan pekerjaan rutin yang sudah saya kerjakan sejak dulu. Jadi kalau sudah tidak jualan sehari saja rasanya gimana gitu. Pas hari minggu kan saya libur. Nah, malah saya merasa ada yang kurang. Saya ingin terus bergerak, entah kenapa. Mungkin sudah rutinitas. Pokoknya kepengin Senin itu cepat tiba, hehe…,” jelas Bi Sri dengan senyumnya yang hangat.

“Subhanallah, Bi Sri memang kuat ya. Lha, si anak sudah sukses malah tetap kerja.”

Halaman
123
Tags
Cerpen
Berita Populer
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved