Makyong, Seni Teater Rakyat yang Membingkai Melayu

Dengan bangga Norma (62) menunjukkan kuku palsu yang diperolehnya dari pejabat Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau.

Makyong, Seni Teater Rakyat yang Membingkai Melayu
KOMPAS/KRIS RAZIANTO MADA
Pemain makyong seusai pentas di Pulau Panjang, tempat tinggal kelompok makyong terakhir di Batam, Kepulauan Riau. Makyong adalah salah satu teater rakyat di tanah Melayu yang sudah hidup selama berabad-abad. Dimulai dari Thailand Selatan, makyong menyebar hingga ke Indonesia. 

SERAMBIUMMAH.CO.ID - Dengan bangga Norma (62) menunjukkan kuku palsu yang diperolehnya dari pejabat Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau. Maklum, bertahun-tahun kuku berwarna emas itu diidam-idamkannya saat mementaskan makyong.

Lebih dari separuh umur Norma dihabiskan untuk makyong. Sampai suaminya, Basri, wafat pada tahun 2000, Norma dan kelompok makyong dari Pulau Panjang, Batam, Kepri, kerap tampil di sejumlah daerah di luar Batam. ”Sekarang belum tentu bisa tampil setahun sekali,” ujar Norma, baru-baru ini.

Kelompok makyong Pulau Panjang dan makyong Pulau Mantang Arang, Bintan, adalah kelompok makyong di Kepulauan Riau yang paling mendekati alur asli teater tradisional Melayu tersebut. Kelompok lain sudah jauh memakai alur modifikasi meski masih tetap menampilkan inti dari seni teater itu.

Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Pudentia Maria Purenti SS mencatat dalam penelitiannya, makyong bukan sekadar teater rakyat. Beberapa bentuk kesenian Melayu, yakni seni peran, sastra lisan, musik, dan tari, bisa disimak dalam pentas makyong. Secara ringkas, Pudentia menyebut makyong sebagai salah satu cara menikmati hampir semua bentuk kebudayaan Melayu dalam satu panggung.

Di Kepulauan Riau, makyong memang bukan satu-satunya teater rakyat yang dikenal. Di Lingga, Kepri, pernah hidup wayang bangsawan, sementara di Natuna ada Mendu. Namun, hanya makyong yang relatif lengkap merangkum dan menyajikan bentuk-bentuk seni Melayu dalam satu panggung.

Setiap kali pentas, teater rakyat itu dibuka dengan musik dan dilanjutkan dengan lagu yang lebih menyerupai mantra. Selepas lagu disampaikan, sambil menari lebih dari 15 menit, barulah dialog dimulai. Dalam dialog, para pemain kerap berbalas pantun.

Kepala dingin

Budayawan Kepri, Husnizar Hood, menyebut pantun dalam kebudayaan Melayu punya berbagai fungsi. Pantun, antara lain, menunjukkan tingkat kecendekiawanan seseorang. Semakin kaya pengalaman dan pengetahuan seseorang, semakin beragam pantun disampaikannya. ”Di Kepri, hampir tak ada pembicaraan tanpa pantun. Obrolan di warung kopi pun diselingi pantun yang diucapkan spontan,” ujar Wakil Ketua DPRD Tanjung Pinang itu.

Pantun juga dipakai untuk menyampaikan nasihat. Karena itu, saat berbalas pantun, sama sekali tak ada niat mendominasi seseorang. Justru pantun dipakai untuk menghindari agar jangan sampai terucap kata tak pantas dan emosi meletup. ”Butuh kepala dingin dan pikiran tenang untuk menyusun pantun yang baik,” kata Husnizar.

Memang dalam makyong tak semua pantun harus disusun spontan saat di panggung. Menurut Norma, dulu pantun-pantun itu tercatat dalam naskah. Setiap pemain harus menghafalnya. Sebab, tidak setiap orang punya salinan naskah yang dahulu ditulis dengan huruf Arab gundul. Sayangnya, di kelompok makyong Pulau Panjang dan Mantang Arang, pemilik naskah sudah meninggal.

Halaman
12
Tags
makyong
Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved