Breaking News:

Tanjidor Melintas Zaman

Sisa-sisa ”laskar” tanjidor terus meniup keras-keras trompet, trombon, dan tuba. Di dalam raungan tanjidor tersimpan identitas

Editor: Edinayanti
kompas.com/lasti kurnia
parade tanjidor 

Penerus Haji Risin, kata Sofyan, ada dua yakni Nya’at (mantu Risin) dan Haji Nawin. Penerus Nya’at selanjutnya adalah Marta (ayah Sofyan), sedangkan penerus Haji Nawin adalah Bang Piye. ”Nah, kalau tidak ada keluarga yang meneruskan, biasanya grup tanjidor lenyap,” ujar Sofyan.

Hal itu terjadi antara lain di Citeureup, Kabupaten Bogor, yang diduga kuat sebagai tempat berkembangnya tanjidor. Ping Yang (52), seniman gambang kromong asal Citeureup mengerut dahinya ketika ditanya adakah grup tanjidor yang tersisa di Citeureup dan sekitarnya. ”Siape ye? Tanjidor di sini udah selesai tahun 1990-an. Kalau kita bikin Cap Gomeh terpaksa datangin tanjidor dari Parung, Bogor,” kata Ping Yan

Kalaupun masih ada grup tanjidor, Ping Yang yakin, pasti pemainnya dari luar Citeureup. ”Atau sebaliknya, kalau ada pemainnya pasti udah enggak ada alatnya,” ujar Ping Yang.

Abah Pitit, mantan pemain tanjidor yang sekarang tergolek tak berdaya karena terserang stroke mengatakan, sampai tahun 2000-an ia masih sering diajak main tanjidor di Cijantung, Parung, dan Depok. ”Kalau di Citeureup sendiri udah kagak ada grup tanjidor. Alat-alatnya dijualin sama yang punya,” tutur Pitit.

Belajar dari pengalaman di atas, Sofyan dan seniman tanjidor lain memilih memperkenalkan tanjidor pada siapa pun yang tertarik meski bukan keluarga. ”Saya melatih banyak anak muda umur 20-an untuk main tanjidor. Sebagian dari mereka pemain band yang suka musik ska. Barangkali ke depannya mereka bisa main tanji-ska.”

Parade tanjidor

Tanjidor bisa dibilang sebagai ”artefak bunyi” yang merupakan bagian dari identitas budaya Betawi. Dalam rangka mengenal lebih dekat identitas kebetawian itu, Bentara Budaya Jakarta menggelar Parade Tanjidor pada Kamis–Jumat (20-21/3/2014) lalu. Pada perhelatan tersebut, pemain tanjidor generasi baru ikut manjak atau unjuk tampil. Sofyan dan kawan-kawan pentas dengan mengusung nama Sanggar Seni Tradisional Yudha Asri. Grup lain yang tampil adalah Tanjidor Tiga Sodara, Tanjidor Pusaka Tiga Sodara, Tanjidor Iramajaya, Sanggar Sinar Betawi, dan Sanggar Betaw

Jaip dan grup Tanjidor Al Jabar berkolaborasi dengan Sanggar Betawi Si Pitung pimpinan Bachtiar. Mereka memainkan tanji-lenong (jinong) dengan lakon ”Demang Blekok”. Pemain tanji yang paling tua hanya Jaip, sisanya berusia 30-an. Sementara itu, pemain lenongnya terdiri dari para bocah dan remaja yang pandai melucu. Setiap ada adegan tokoh mati di atas panggung, pemeran lain menangis tersedu-sedu sambil berkata, ”Matinye di dalam (kamar ganti) aja ye. Biar enakan rebahnye.”

Irama Jaya yang berasal dari Depok, Jawa Barat, menyajikan tanji-kliningan yang musiknya gabungan antara tanji dan jaipongan Sunda. Lagu yang dimainkan bukan mars atau waltz tapi lagu Sunda, termasuk ”Sorban Palit” yang mengajak orang untuk nandak.

Tanjidor kini pelan-pelan beralih dari tangan generasi tua, ke generasi yang lebih muda. Di balik bunyi alat tiup logam itu tersimpan sejarah yang ikut menjadikan budaya Betawi ada dan dikenal sampai hari ini. Identitas yang akan sangat disayangkan jika hilang tersapu zaman.  

Tags
tanjidor
Berita Populer
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved