Rebana, Kesenian Islam yang Mulai Sirna

Penyebaran Islam di Nusantara mulai semarak pada abad ke-12 dan 13.

Rebana, Kesenian Islam yang Mulai Sirna
Republika/Wihdan Hidayat
Bermain rebana

SERAMBIUMMAH.COM - Penyebaran Islam di Nusantara mulai semarak pada abad ke-12 dan 13. Syiar Islam yang dibawa para dai Timur Tengah ternyata bisa diterima baik oleh warga pribumi.

Alasannya, syiar Islam tersebut mampu bertransformasi dengan budaya setempat. Nilai-nilai Islam yang disampaikan dikemas sedemikian rupa sehingga mampu menyesuaikan dengan kondisi sosio-kultural setempat.

Misalnya, dalam pergelaran wayang kulit dikemas dengan kisah dan ajaran bernapaskan Islam. Syiar Islam disampaikan dalam bentuk hiburan yang saat itu digandrungi masyarakat nusantara.

Demikian juga dengan alat musik rebana yang didalam syair-syairnya sarat dengan nilai-nilai Islam. Masyarakat yang ketika itu menyukai nyanyian ternyata menyukai kesenian rebana. Akhirnya, mereka pun ikut melantunkan syair-syair yang bernapaskan ajaran Islam itu.

Hingga sekarang, hiburan sejenis rebana masih menghiasi kegiatan peringatan hari besar
islam, tasyakuran, walimatul urusy, walimatul khitan, walimatul hamli, hari raya, hingga acara penyambutan tamu penting.

Seperti dikenal dalam masyarakat Betawi, kesenian marawis adalah salah satu bukti nyata bentuk kesenian Islam dengan menggunakan rebana.

Marawis merupakan kolaborasi kesenian Timur Tengah dan Betawi yang sangat kental dengan warna keagamaan. Itu tecermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan, seperti ungkapan shalawat sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi SAW, dan pujian serta ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Kesenian yang asal-muasalnya dari Yaman ini mempunyai irama-irama tertentu untuk tujuan
tertentu pula. Seperti irama jenis sarah dipakai untuk mengarak pengantin, dan irama jenis zahefah untuk mengiringi lagu di majelis. Kedua nada ini lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat.

Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan mengangkat. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam.

Dalam Islam, rebana dan gendang tidak hanya sebatas hiburan atau alat permainan semata. Alat musik pukul ini bahkan sering diselaraskan dengan kebudayaan Islam. Keberadaannya rebana dahulunya juga menjadi salah satu media dalam dakwah dalam menyampaikan syiar Islam.(rol)

Editor: Sigit Rahmawan Abadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved