Mencari Keberkahan Bukan Kemewahan

SUVENIR bagi tamu pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi, membuat publik terkejut.

Editor: Sudi
Mencari Keberkahan Bukan Kemewahan
ISTIMEWA
Nikhrawi Hamdie

SERAMBIUMMAH.COM - SUVENIR bagi tamu pernikahan anak Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi, membuat publik terkejut. Selain geger masalah gratifikasi, gaya bermewah-mewahan pejabat, membuat masyarakat mengecamnya. Bagaimana jika pejabat mengadakan pesta, semisal pernikahan, berikut wawancara Serambi UmmaH dengan Sosiolog dari Universitas Islam Kalimantan (Uniska), Nikhrawi Hamdie.

Bagaimana pendapat Anda, soal pernikahan wah anak pejabat di MA itu?

Menjadi hak semua orang untuk mengadakan pesta pernikahan anaknya, demi kebahagiaan mereka.

Namun, tidaklah sepantasnya menampilkan kemewahan yang seakan-akan menunjukkan, bahwa seorang pejabat itu identik denga kehidupan glamor.

Seharusnya pejabat menjadi contoh bagi masyarakat, cara menggelar pesta perkawinan yang sesuai adat istiadat kita bangsa timur, lebih mengedepankan kesederhanaan.

Apakah pesta perkawinan itu, sesuai etika masyarakat?

Pesta dengan pemberian suvenir iPod, total senilai Rp 1,5 miliar jelas akan membuat kesenjangan di masyarakat, bahkan bisa melukai hati rakyat.

Di saat masyarakat sedang kesusahan memenuhi kebutuhan sehari-hari, pejabat MA tersebut malah terkesan mudah menghamburkan uang, demi sebuah pesta perkawinan.

Jadi etikanya, ini tidak bisa ditiru. Jelas akan melukai hati masyarakat yang mengetahuinya. Apalagi, yang menerima suvenir itu sesama pejabat, juga memiliki harta berlimpah.

Apakah sekarang mencerminkan moral seperti itu?

Para pejabat di negara kita, umumnya memang meninggalkan basis moral bangsa ini, yakni Pancasila dalam tindakan mereka. Mereka sudah tidak peduli sisi kemanusiaan. Tindakan mereka didasari nilai liberalistik.

Sehingga, tindakan mereka hanya ditujukan pada kesenangan dan kemewahan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya, bukan rakyat Indonesia.Dengan demikian, tujuan mulia bangsa ini, keadilan dan kesejahteraan bersama; mereka abaikan.

Bagaimana gambaran pernikahan di zaman Rasulullah SAW?

Rasulullah SAW menyuruh kita menyederhanakan pernikahan, sehingga yang lebih dikejar atau dikedepankan adalah keberkahan.

Melalui keberkahan itu, diharapkan rumah tangga yang memiliki hajat bisa menjadi berkah juga, sehingga tujuan awal mereka agar menjadi keluarga sakinah bisa terwujud.

Masih banyak yang membutuhkan bantuan. Misalnya, rumah yatim dan sebagainya. Alangkah baiknya dana yang dihamburkan itu, untuk membantu mereka.

Memang, di masyarakat kita ada anggapan bahwa seorang pejabat harus menunjukkan kekayaannya untuk mendapat pengakuan, sehingga berwibawa.

Hal itu menyebabkan, seorang pejabat harus mengumpulkan harta yang banyak. (khairil rahim-irham safari)

Sumber: Serambi Ummah
  • Berita Populer

    Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved