Yuli Mencontoh Siti Khadijah

DALAM menjalankan bahtera rumah tangga, banyak sekali riak-riaknya. Tidak hanya datang dari luar seperti lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja.

Editor: Sudi
NET
Ilustrasi 

SERAMBIUMMAH.CO.ID - DALAM menjalankan bahtera rumah tangga, banyak sekali riak-riaknya. Tidak hanya datang dari luar seperti lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja. Namun juga dari keluarga bahkan pasangan sendiri.

Perlu kebesaran hati dan kesabaran untuk menerima pasangan secara apa adanya.

Selain itu, perlu mencontoh kehidupan orang-orang yang lebih baik atau berhasil membina rumah tangganya.

“Terus terang, aku banyak mencontoh hal-hal baik dari kehidupan Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW,” ujar seorang ibu rumah tangga bernama Yuli.

Menurut Yuli, berdasar cerita yang dia baca dari beberapa buku, Khadijah termasuk perempuan yang kaya dan punya pengaruh di Makkah. Walau begitu dia tetap rendah hati. Dia juga setia mendampingi Rasulullah, baik di saat suka maupun duka. “Itu  yang bisa diterapkan dalam rumah tangga kita,” kata Yuli.

Secara terpisah, psikolog Rahmi Fauzia, mengungkapkan tiap makhluk ciptaan Allah SWT  dibekali potensi  tertentu. Manusia dikarunia potensi yamg dinamakan akal. Dengan pikirannya dia dapat belajar banyak hal mengenai kehidupan yang lebih baik.

“Kaum muslim di seluruh  dunia tahu bahwa Rasulullah SAW adalah sebaik-baiknya  manusia yang diciptaan Allah SWT, sehingga seluruh aspek kehidupan beliau diyakini menjadi metode terbaik dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam berumah tangga,” papar Rahmi.

Jadi dalam hal ini, kehidupan Rasulullah SAW harus menjadi contoh bagi tiap muslim. Demikian juga dengan kaum Hawa. Merupakan kewajiban bagi muslimah untuk mengetahui bagaimana menjadi istri yang baik dengan memelajari kehidupan Ummul Mukminin Siti Khadijah.

Para istri bisa melakukan perbaikan diri dengan mengambil contoh Siti  Khadijah dalam menjalani peran sebagai pendamping seorang suami. Disampaikan dalam salah satu hadis yang bermakna bahwa sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita salehah dan istri yang salehah, yang apabila dia dipandang maka akan menyejukkan hati suami. Apabila diminta melakukan sesuatu, dia taat dan apabila dia ditinggal suami, maka dia amanah menjaga harta dan anak-anak mereka.

Menurut Rahmi, persoalan yang dihadapi perempuan saat ini adalah minimnya contoh figur untuk menjad istri yang baik. Sebaliknya yang hadir dalam rumah tangga adalah figur-figur istri yang bertolak belakang dengan nilai-nilai agama.

“Oleh sebab itu, menjadi penting  untuk menghadirkan media yang baik dan tidak berpotensi membawa kepada contoh perilaku negatif di lingkungan rumah tangga, agar istri dapat belajar mengenai hal-hal yang baik tersebut dan membentuk dirinya menjadi wanita yang salehah,” kata  Rahmi yang  dosen di Unlam Banjarmasin. (irfani rahman-mulyadi danu saputra)

Sumber: Serambi Ummah
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved