Edisi Cetak

Fasih Berkat Tekun Belajar

ALQURAN bagi umat Islam adalah pedoman hidup selama di dunia. Membacanya menjadi ibadah dan ladang pahala. Dengan membaca dan memedomaninya

Fasih Berkat Tekun Belajar
BANJARMASIN POST GROUP/MAN HIDAYAT
M Ruyani dan M Ridho foto bersama dengan teman-teman dan para pembimbingnya. 

ALQURAN bagi umat Islam adalah pedoman hidup selama di dunia. Membacanya menjadi ibadah dan ladang pahala.

Dengan membaca dan memedomaninya akan memberikan ketenangan dan petunjuk dalam menjalani kehidupan menuju jalan Allah.

Namun bagi sebagian muslimin, membaca Alquran memang tak mudah. Pelafalan dan tajwidnya harus diperhatikan. Terlebih jika yang dibaca adalah Alquran gundul atau tanpa tanda baca (harakatnya) yang juga biasa disebut kitab kuning.

Hanya orang-orang tertentu yang bisa membaca kitab kuning. Salah satunya adalah santri Alfalah Banjarbaru, M Ridho (17). Santri ini memiliki kemampuan yang bagus dalam membaca kitab kuning.

“Awalnya saya tidak pernah tahu ada kitab seperti itu, tapi saat masuk pesantren saya diajari sedikit demi sedikit hingga lancar seperti sekarang ini,” ujar Ridho.

Membaca Alquran, kata Ridho, memang sudah dibiasakan sejak duduk di bangku kelas 2 SD. Namun dia mulai belajar mengenal dan membaca kitab gundul saat belajar di Pesantren Alfalah dengan pengasuh KH Syaifullah.

Dia mengatakan, pertama kali melihat kitab kuning, dia sempat kebingungan dan tidak tahu bagaimana cara membacanya. Selama dia belajar mengaji dengan gurunya di kampung, yang dipelajarinya adalah Alquran biasa lengkap dengan baris dan harakatnya.

Namun setelah mempelajarinya secara perlahan-lahan dibantu ustadz pembimbingnya dipesantren, Ridho pun bisa membaca kitab kuning dengan fasih. Malah karena kepiawaiannya membaca kitab kuning, Ridho pun berhasil menjadi juara di ajang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) V tingkat provinsi belum lama tadi. Padahal, dia baru pertama kali mengikuti event itu.

Karena prestasinya itu, Ridho akan dikirim ke Jambi untuk mewakili Provinsi Kalimantan Selatan di ajang Musabaqah Qiraatil Kutub tingkat nasional.

Agar makin lancar membaca kitab kuning, Ridho mengaku terus mengasah kemampuannya. Dia belajar tekun, tidak hanya di pesantren tapi di rumahnya. Hampir tiap malam dia membaca kitab kuning.

“Saya pelajari terus, apalagi orangtua sangat mendukung dan selalu memberikan motivasi kepada saya,” ujarnya.

Tak hanya Ridho, M Ruyani (13) juga fasih membaca kitab gundul. Sama seperti Ridho, Ruyani pun berprestasi. Dia menjadi juara pertama bidang Fiqih pada MQK V di asrama haji beberapa waktu lalu.

Awalnya dia memang bingung melihat kitab gundul. Namun lama-lama dia pun makin fasih dan terlatih. Dia belajar dari program amsilati atau program membaca cepat kitab kuning. “Bisa membaca kitab gundul berkat program yang dirancang di Alfalah yaitu program Amsilati,” ujarnya saat didampingi pembimbingnya, ustadz Baidillah. (man hidayat-anjar wulandari)

Editor: Sudi
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved