Edisi Cetak

Menolak Digaji Rp 400 Ribu Per Bulan

KEBERADAAN pengemis tak pernah sirna, meski berbagai upaya memberantasnya sudah dilakukan.

Editor: Dheny
BPOST GROUP/APUNK
PENGEMIS masih saja beraksi di jalan. Padahal pemerintah daerah sudah melakukan berbagai upaya pencegahan, salah satunya razia pengemis. 

KEBERADAAN pengemis tak pernah sirna, meski berbagai upaya memberantasnya sudah dilakukan. Entah itu tua, muda dan anak selalu ada saja yang berkeliaran meminta-minta di jalan. Fenomena ini membuat banyak kalangan khawatir, keberadaan pengemis akan menjadi pendidikan buruk bagi generasi penerus bangsa.

Bagi orang yang malas bekerja dan sudah hilang rasa malu, mengemis adalah cara yang mudah mendapatkan uang. Cukup dengan menjual belas kasihan, sekali menadahkan tangan minimal akan uang Rp 1.000. Kalau mengemis dari pagi hingga malam, mereka bisa mendapatkan ratusan ribu rupiah dalam sehari.

Di Kalsel, para pengemis ini kerap berkumpul di perempatan jalan atau di kawasan-kawasan tertentu yang banyak dilalui masyarakat. Hal ini mendapatkan perhatian khusus dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin.

Menurut Ketua MUI Kota Banjarmasin, H Murjani Sani, keberadaan pengemis ini sudah sangat memprihatinkan. Karena sudah meracuni pikiran anak-anak.

“Anak-anak itu seharusnya mendapatkan pendidikan yang baik di sekolah, malah mengemis di jalan. Ini jelas tak baik. Jika kebiasaan ini dilakukan sejak kecil, saya khawatir akan membuat mereka menjadi orang-orang pemalas kelak. Islam jelas tak mengajarkan hal ini,” ujarnya.

Belum lama ini, kata Murjani, pihaknya menggelar acara di Kantor Wali Kota Banjarmasin khusus untuk membahas fenomena ini. “Acara ini digelar sebagai wujud keprihatinan mereka terhadap maraknya keberadaan pengemis cilik tersebut,” ujarnya.

Murjani mengatakan, pihaknya mengimbau kepada instansi terkait dan warga agar jangan lagi memberikan sedekah kepada pengemis cilik.

“Dalam bentuk apa pun, kalau bisa jangan lagi. Untuk pemerintah daerah agar bisa lebih instensif lagi membina para pengemis cilik yang terjaring razia agar mental mengemis mereka tidak menjadi-jadi,” ujarnya.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Banjarmasin, Agus Surono, menambahkan pengemis di kota ini selalu berusaha dikurangi, khususnya yang cilik. Kebanyakan, mereka mengemis karena disuruh orangtua mereka.

“Kami tak pernah menyerah untuk mendidik mereka dengan membekali mereka keterampilan tertentu sebagai bekal usaha. Kami selalu mengadakan pembinaan kepada mereka, baik yang cilik maupun yang dewasa. Kami juga bekerja sama dengan banyak panti, di antaranya di Jakarta,” ujarnya.

Pihaknya, kata Agus, juga selalu mengadakan pembinaan secara rohani. Pembinaan ini untuk membentuk mental mereka agar tak menjadi pengemis lagi.

“Tak jarang pengemis yang terjaring razia Satpol PP Kota Banjarmasin dan dibina di Panti Rehabilitasi Sosial Dinsosnaker, tidak kapok. Setelah lepas, mereka kembali lagi mengemis di jalan,” ujarnya.

Agus mengaku sangat sulit mengantisipasinya. Apalagi, ketika berhadapan dengan mental pengemis yang susah disadarkan. “Perlu bantuan semua elemen masyarakat untuk menanggulangi ini,” ujarnya.

Pengemis ketika dibina dan diberi pekerjaan kebanyakan menolak. Sebab, penghasilan mereka mengemis lebih tinggi dari gaji mereka jika bekerja. “Mereka diberi pekerjaan dengan gaji Rp 20.000 hingga Rp 40.000 sebulan biasanya menolak. Mereka lebih senang mengemis karena sehari bisa dapat lebih dari itu,” ujarnya.

Pihaknya, kata Agus, berusaha menegakkan Perda Nomor 3 tahun 2010 tentang penanggulangan anak jalanan, gelandangan, pengemis dan wanita tuna susila.

“Di Perda itu, pada Pasal 3 tertuang aturan bahwa warga dilarang memberikan sedekah kepada pengemis. Pasal itu dipertegas lagi dengan Pasal 20 ayat 3 tentang pemberian hukuman tindak pidana ringan (Tipiring) berupa denda Rp 100.000 bagi warga yang ketahuan memberikan Sedekah kepada pengemis,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Satpol PP Kota Banjarmasin, Ichwan Noor Chalik, mengatakan pihaknya sangat mendukung aksi penolakan pemberian sedekah kepada pengemis cilik.

“Kami sering merazia pengemis, baik yang tua maupun muda. Kami razia sebulan bisa lima kali. Hasil temuan saya dan jajaran anak buah saya, yang cilik ini rata-rata mengemisdisuruh orangtua mereka untuk menambah pundi-pundi rupiah mereka,” ujarnya. (yayu Fathilal - m taufik)

Sumber: Serambi Ummah
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved