Edisi Cetak

Minyak Baboreh Diganti Minyak Wangi

NITA merasa bahagia pascamelahirkan putri keempatnya. Sebulan setelah melahirkan, dia pun menggelar tasmiah untuk pemberian nama anaknya

Minyak Baboreh Diganti Minyak Wangi
NET
PROSESI tasmiyah dan aqiqah. 

NITA merasa bahagia pascamelahirkan putri keempatnya. Sebulan setelah melahirkan, dia pun menggelar tasmiah untuk pemberian nama anaknya, sekaligus melaksanakan tradisi batapung tawar.

Menurut Nita, batapung tawar putrinya menggunakan berbagai macam kembang, minyak baboreh berwarna merah bercampur air. “Yang melakukan tapung tawar anak dan putri saya merupakan tetua masyararat dan tokoh agama dengan memapai di kepala, bahu kanan dan kiri serta tangan dan kaki,” paparnya.

Di era modern seperti sekarang ini, ada juga yang mengganti minyak baboreh dengan minyak wangi dicampur supaya praktis dan harum. “Sama saja, yang utama kami melaksanakan tradisi tapung tawar,” tandas Nita.

Kata tasmiah berasal dari bahasa Arab yang berarti memberi nama kepada anak yang baru lahir. Biasanya, pelaksanaan tasmiah selalu disertai dengan upacara akikah atau pemotongan seekor kambing.Orangtua wajib memotong seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki.

Sebelum dilakukan tasmiah, dalam tradisi Banjar, bayi diturunkan dari ayunan dan diarak keliling rumah. Acara ini diiringi rombongan kesenian sinoman hadrah, yang melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, acara tasmiyah juga disertai dengan pembacaan ayat suci Alquran dan dakwah agama.

Usai pemberian nama, rambut bayi dipotong dan selanjutnya diberi tapung tawar sebanyak tiga kali di atas kepala. Bila proses ini telah dilalui, maka anak itu resmi menyandang nama yang diberikan. Masyarakat Banjar percaya arti nama yang diberikan sangat berpengaruh terhadap perjalanan hidup bayi itu. Nama itu juga diharapkan dapat memberi berkah kepada diri anak tersebut dan keluarganya.

Ustadz Sarmiji Aseri mengatakan, dalam tradisi tasmiah dan aqiqah saat batapung dengan memberi minyak wangi dicampur air tak menjadi masalah. “Biasanya masyarakat menggunakan minyak baboreh bercampur air dan kembang. Bila diganti dengan minyak wangi dan air tak menjadi masalah. Ini hanya tradisi, asal campurannya jangan bahan campuran haram,” paparnya.

Menurut Sarmiji, masyarakat menggantikan minyak baboreh dengan minyak wangi supaya praktis dan mudah mencarinya. “Kegiatan tasmiyah diikuti tradisi batapung tawar dengan mengundang tetangga dan handai taulan sebagai pertanda syukur atau gembira maupun bangga punya anak,” katanya. (syaiful anwar-m royan n)

Editor: Sudi
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved