Edisi Cetak

Takdir Ibu

NAPASNYA tersengal, dada ringkih yang seolah hanya tulang dibalut kulit itu kembang-kempis menahan sesak yang telah dipendam

Takdir Ibu
BANJARMASIN POST GROUP/DENNY
Ilustrasi 

Orang-orang sering mengatakan bahwa Ibu dulu adalah seorang kupu-kupu malam. Aku yang polos awalnya tak mengetahui arti perumpamaan ini, hingga suatu ketika Ibu pulang dari musala dengan tangis tersedu-sedu sembari menenteng mukena lusuh kesayangaannya. Ibu tak bercerita, hanya tersenyum di sela tangisnya. Seolah ia ingin berkata bahwa tak ada apa-apa, sekalipun sesungguhnya air mata berlinang di pipinya.

Baru keesokan paginya kudengar desas-desus para tetangga yang apabila mensyiarkan kebaikan sulitnya bak tak terjangkau tangan. Dari mereka kuketahui jika dahulu Ibu adalah kembang bagi para kumbang berhidung belang. Hatiku remuk redam. Ada kecewa, amarah, pula dendam.

Bukan. Bukan pada Ibu atau pun masa lalu wanita yang bagiku tetap di telapak kakinya lah surga itu. Namun pada sikap para tetangga yang seolah menganggap Ibu seperti bukan makhluk Tuhan.

Namun Ibu tak pernah dendam, sekalipun hatinya terluka. Ia tetap melukiskan seberkas senyuman penyejuk jiwa, tetap berbicara seolah ia adalah orang yang paling bahagia di dunia. Sekalipun sesungguhnya ia harus menahan nyeri atas luka yang tak kunjung kering bahkan hingga sekian tahun lamanya.

Pernah suatu ketika, kupertanyakan sifat Ibu yang demikian penyabar itu. Entah sifat itu lantaran tempaan kepenatan duniawi atau memang anugerah Tuhan yang tak mampu kupahami.

“Anakku, segala ketentuan hidup ini telah tergambar pada kedua belah telapak tangan, tak mungkin kita tentang. Ibu tak marah, sebab di dunia ini tidak lah ada yang kekal, tidak pula cincin itu.”

Dihela Ibu sebuah napas panjang sebagai jeda atas luka yang menganga. Seakan bersama dengan hirupan dalam udara malam yang menusuk tulang sejenak beban hidup dapat ia leburkan.

“Bagi Ibu, bisa memiliki seorang anak salihah sepertimu adalah harta yang tak tertandingi nilainya. Lantaran kelak engkaulah penyelamat Ibu di akhirat.” jawab Ibu masih dengan senyum tulusannya.

Luruh sudah segala rasa kecewa, amarah, dan dendamku. Ketulusan Ibu bak mata air Al- Kautshar yang menyejukkan tandusnya padang luka hatiku. Wanita bersahaja itu selalu mampu menerima takdir Tuhannya. Lalu mengapa bagiku terasa sulit berdamai dengan keangkuhan dunia ini? Sedang Ibu yang bertahun-tahun kedua telapak kakinya terluka hingga bernanah oleh kerikil kehidupan saja mampu bernegosiasi dengan itu. Ah... Ibu selalu begitu.
Menerima hukum dunia atas janji takdir yang tak mampu ditentangnya. Atas pilihan hidup yang  ia sendiri pun tak diperbolehkan untuk memilih. Sebab menjadi kupu-kupu malam adalah paksaan dari seorang wanita yang tak pantas disebut, bahkan sekadar Ibu tiri itu.

“Ratmi...! Ratmi...! Buka pintu!” teriakBapak yang terdengar melengking bak banteng hendak perang dari dalam gubuk reot kami ini.

Halaman
123
Editor: Sudi
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved