Edisi Cetak

Takdir Ibu

NAPASNYA tersengal, dada ringkih yang seolah hanya tulang dibalut kulit itu kembang-kempis menahan sesak yang telah dipendam

Takdir Ibu
BANJARMASIN POST GROUP/DENNY
Ilustrasi 

Bergegas Ibu berjalan.Terseok-seok tubuh ringkihnya itu menopang badan yang tengah menanggung sakit tak tertahankan. Sakit akibat penurunan sistem imunitas yang terus menggerogoti tubuh rentanya tanpa pernah berbelas kasihan. Penyakit nista penurunan imunitas yang diakibatkan nestapa masa lalu Ibu.

Sayang, bukan sekadar seulas senyum yang Bapak hadiahkan saat Ibu telah di ambang pintu yang terbuat dari anyaman bambu itu, melainkan tangan kukuh Bapak yang melayang kewajah tirus Ibu. Wajah tirus yang selalu ayu walau hanya dengan basuhan air wudu. Entah apa salah Ibu? Bapak tak pernah menjelaskan itu, yang terpenting baginya, ada pelampiasan atas amarah yang entah dari mana muasalnya, namun selalu Ibu yang menjadi sasaran kekejamannya. Tetapi sekali lagi, Ibu tak pernah marah ataupun dendam atas itu.

***

Mentari tengah bersujud pada Sang Pemilik Hidup ketika denyut kehidupan Ibu berhenti berdetak. Kutahu Ibu telah pergi bersama Izrail menuju tanah keabadian bernama Firdaus. Ibu, kini engkau telah tenang di sana. Takkan ada lagi luka yang kan tergores di wajah ayumu. Takkan ada lagi serpihan cermin retak yang menghiasi mata legam ayu milikmu.

Bu, kuterima janji takdir Tuhan yang telah tergambar di kedua telapak tanganmu. Tentang perpisahan yang memang telah menjadi ketentuan tatkala waktunya telah tiba. Selamat jalan, Bu, kulepas engkau dalam ikhlas yang aku sendiri pun tak mampu jelaskan. (*)

Editor: Sudi
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved