Edisi Cetak

Takdir Ibu

NAPASNYA tersengal, dada ringkih yang seolah hanya tulang dibalut kulit itu kembang-kempis menahan sesak yang telah dipendam

Takdir Ibu
BANJARMASIN POST GROUP/DENNY
Ilustrasi 

Oleh: Miranda Seftiana

NAPASNYA tersengal, dada ringkih yang seolah hanya tulang dibalut kulit itu kembang-kempis menahan sesak yang telah dipendam bahkan hingga sekian tahun lamanya.

Mata legamnya pun kini terpejam rapat seakan hendak melepaskan kepenatan dunia sejenak. Tak ada lagi senyum hangat yang menghiasi wajah tirusnya.Tak ada lagi gelak tawa yang sering menjadi perhatian dan pembicaraan tetangga yang tak mengerti tentang dirinya.

Ibu kini tengah terbaring di sebuah ranjang bertirai putih, berselimut kabut perih dengan aliran cairan bening yang menyakitkan. Ibu tak lagi bicara. Kedua bibir merah jambunya tertaut erat serupa dengan sepasang mata legamnya yang tertutup rapat.

Ibu, sang wanita yang memiliki seribu mimpi itu kini tengah bertarung dengan maut, menunggu Izrail datang membawa ketentuan yang telah terpahat pada kedua belah telapak tangan. Ketentuan yang tak mungkin ditentang. Ketentuan yang telah menjadi kesepakatan, bahkan sejak dalam kandungan.

***

Guring-guring anakku guring
Guring diakan dalam ayunan
Anakku nang bungas lagi bauntung
Hidup baiman, mati baiman

Sebuah senandung pengantar tidur yang lazim disebut dengan dundang dalam bahasa Banjar mengalun merdu dari bibir merah jambu ibu. Tangan keriput wanita paruh baya yang senantiasa tersenyum sepanjang waktunya itu membelai lembut rambut hitam tebal milikku.

Rambut yang sama persis dengan yang dimiliki Ibu, si kembang desa di masa lalu itu. Dulu paras Ibu bak pualam sebelum luka-luka bekas kekejaman Bapak turut menghiasi wajah ayunya.

Bahkan, di tubuhnya juga terlukis urat-urat nestapa peninggalan nenek yang merupakan orangtua tiri Ibu. Namun Ibu tetaplah Ibu. Wanita yang hampir sepanjang hidupnya menanggung derita itu tak pernah sedikit pun menaruh dendam pada siapapun jua yang pernah melukainya, juga pada kekejaman Bapak dan nenek. Bagi Ibu, hidup adalah pengharapan, tak perlu dihiasi dengan kerikil dendam. Ah Ibu... Selalu begitu.

Orang-orang sering mengatakan bahwa Ibu dulu adalah seorang kupu-kupu malam. Aku yang polos awalnya tak mengetahui arti perumpamaan ini, hingga suatu ketika Ibu pulang dari musala dengan tangis tersedu-sedu sembari menenteng mukena lusuh kesayangaannya. Ibu tak bercerita, hanya tersenyum di sela tangisnya. Seolah ia ingin berkata bahwa tak ada apa-apa, sekalipun sesungguhnya air mata berlinang di pipinya.

Baru keesokan paginya kudengar desas-desus para tetangga yang apabila mensyiarkan kebaikan sulitnya bak tak terjangkau tangan. Dari mereka kuketahui jika dahulu Ibu adalah kembang bagi para kumbang berhidung belang. Hatiku remuk redam. Ada kecewa, amarah, pula dendam.

Bukan. Bukan pada Ibu atau pun masa lalu wanita yang bagiku tetap di telapak kakinya lah surga itu. Namun pada sikap para tetangga yang seolah menganggap Ibu seperti bukan makhluk Tuhan.

Namun Ibu tak pernah dendam, sekalipun hatinya terluka. Ia tetap melukiskan seberkas senyuman penyejuk jiwa, tetap berbicara seolah ia adalah orang yang paling bahagia di dunia. Sekalipun sesungguhnya ia harus menahan nyeri atas luka yang tak kunjung kering bahkan hingga sekian tahun lamanya.

Pernah suatu ketika, kupertanyakan sifat Ibu yang demikian penyabar itu. Entah sifat itu lantaran tempaan kepenatan duniawi atau memang anugerah Tuhan yang tak mampu kupahami.

“Anakku, segala ketentuan hidup ini telah tergambar pada kedua belah telapak tangan, tak mungkin kita tentang. Ibu tak marah, sebab di dunia ini tidak lah ada yang kekal, tidak pula cincin itu.”

Dihela Ibu sebuah napas panjang sebagai jeda atas luka yang menganga. Seakan bersama dengan hirupan dalam udara malam yang menusuk tulang sejenak beban hidup dapat ia leburkan.

“Bagi Ibu, bisa memiliki seorang anak salihah sepertimu adalah harta yang tak tertandingi nilainya. Lantaran kelak engkaulah penyelamat Ibu di akhirat.” jawab Ibu masih dengan senyum tulusannya.

Luruh sudah segala rasa kecewa, amarah, dan dendamku. Ketulusan Ibu bak mata air Al- Kautshar yang menyejukkan tandusnya padang luka hatiku. Wanita bersahaja itu selalu mampu menerima takdir Tuhannya. Lalu mengapa bagiku terasa sulit berdamai dengan keangkuhan dunia ini? Sedang Ibu yang bertahun-tahun kedua telapak kakinya terluka hingga bernanah oleh kerikil kehidupan saja mampu bernegosiasi dengan itu. Ah... Ibu selalu begitu.
Menerima hukum dunia atas janji takdir yang tak mampu ditentangnya. Atas pilihan hidup yang  ia sendiri pun tak diperbolehkan untuk memilih. Sebab menjadi kupu-kupu malam adalah paksaan dari seorang wanita yang tak pantas disebut, bahkan sekadar Ibu tiri itu.

“Ratmi...! Ratmi...! Buka pintu!” teriakBapak yang terdengar melengking bak banteng hendak perang dari dalam gubuk reot kami ini.

Bergegas Ibu berjalan.Terseok-seok tubuh ringkihnya itu menopang badan yang tengah menanggung sakit tak tertahankan. Sakit akibat penurunan sistem imunitas yang terus menggerogoti tubuh rentanya tanpa pernah berbelas kasihan. Penyakit nista penurunan imunitas yang diakibatkan nestapa masa lalu Ibu.

Sayang, bukan sekadar seulas senyum yang Bapak hadiahkan saat Ibu telah di ambang pintu yang terbuat dari anyaman bambu itu, melainkan tangan kukuh Bapak yang melayang kewajah tirus Ibu. Wajah tirus yang selalu ayu walau hanya dengan basuhan air wudu. Entah apa salah Ibu? Bapak tak pernah menjelaskan itu, yang terpenting baginya, ada pelampiasan atas amarah yang entah dari mana muasalnya, namun selalu Ibu yang menjadi sasaran kekejamannya. Tetapi sekali lagi, Ibu tak pernah marah ataupun dendam atas itu.

***

Mentari tengah bersujud pada Sang Pemilik Hidup ketika denyut kehidupan Ibu berhenti berdetak. Kutahu Ibu telah pergi bersama Izrail menuju tanah keabadian bernama Firdaus. Ibu, kini engkau telah tenang di sana. Takkan ada lagi luka yang kan tergores di wajah ayumu. Takkan ada lagi serpihan cermin retak yang menghiasi mata legam ayu milikmu.

Bu, kuterima janji takdir Tuhan yang telah tergambar di kedua telapak tanganmu. Tentang perpisahan yang memang telah menjadi ketentuan tatkala waktunya telah tiba. Selamat jalan, Bu, kulepas engkau dalam ikhlas yang aku sendiri pun tak mampu jelaskan. (*)

Editor: Sudi
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved