Edisi Cetak

Antara Humor dan Substansi Dakwah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik, dakwah yang disiarkan stasiun televisi belakangan ini.

Editor: Dheny
BPOST GROUP/AYA SUGIANTO

JADI menarik dan menyedot perhatian jemaah (pemirsa), humor (lelucon) menjadi sisi lain yang ditonjolkan dalam acara  dakwah Islam di stasiun televisi. Bila berlebihan dikhawatirkan melunturkan nilai Islam dalam berdakwah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik, dakwah yang disiarkan stasiun televisi belakangan ini. MUI berpendapat, tayangan tersebut tidak menekankan pada nilai Islam (substansi) tetapi hanya mengedepankan sisi lawakan (humor).

MUI mengimbau pemilik stasiun televisi, agar jangan terlalu berpatokan pada rating. Terlebih untuk program Ramadan yang merupakan bulan spirit dakwah Islam.

Pengetahuan dai (seorang juru dakwah) dalam berdakwah pun, jadi sorotan. Menurut Ketua Bidang Fatwa MUI Kalimantan Selatan, H Rusdiansyah Asnawi, sisipan lawakan dan humor dalam sebuah dakwah Islam sah-sah saja, namun jangan sampai keterlaluan.

“Kemasan berdakwah sejak dulu beragam, di masa modern ini disisipi lawakan. Namun jangan sampai berlebihan,” katanya.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel, H Syarbani Haira mengatakan prinsip dalam berdakwah itu boleh menggunakan metode apapun.

Menurut dia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dai dalam berdakwah, metodologi komunikasi juga harus dikuasai. Setidaknya ada tiga hal, pertama seseorang dalam berkomunikasi harus membangun perhatian audien.    Kedua, harus mampu mendorong semangat untuk pendengar bersama memahami duduk permasalahan atau tema; dan ketiga, harus mampu memberikan perubahan perilaku di kalangan umat pascadakwah disampaikan.

“Subtansinya di situ, masyarakat yang tadinya tidak tahu jadi tahu, tadinya saleh jadi tambahn saleh. Terserah metode apa yang penting perubahan, sayangnya di zaman ini banyak penceramah sudah merasa sukses jika pendengar tertawa. Padahal jangan bangga bikin umat tertawa karena perubahan umatlah yang utama,” katanya.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalsel, Prof H Ahmad Khairudin mengatakan tidak jadi masalah dalam ceramah itu ada lawakan. Asal terkontrol.

“Boleh asal jangan keluar dari substansi dan tidak porno. Karena lawakan dan humor yang disampaikan keluar subtansi, wajar saja jika MUI mengkritik,” katanya.

***

Mubaligh (penceramah) di Kota Banjarmasin, Sarmiji Asri mengatakan, dirinya saat memberikan ceramah sesekali membumbui dengan lawakan. Menurutnya, boleh-boleh saja menyisipkan lawakan, tetapi tidak yang porno.

“Ceramah ada lawakannya sebagai bumbu, supaya yang mendengarkan tidak cepat bosan dan supaya lebih paham atau mengerti. Lawakan juga ada kaitannya dengan materi ceramah,” katanya.

Dia mengatakan, masih banyak lawakan yang tidak mengandung unsur porno. Dia mencontohkan seperti dalam ceramah isinya sedikit-sedikit artinya, tidak lama kembali mengucapkan artinya, hingga selesai pidato.

Halaman
12
Sumber: Serambi Ummah
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved