Edisi Cetak

Rasullulah Juga Humoris

RASULULLAH, Muhammad SAW adalah manusia yang gemar menebarkan kegembiraan. Contoh, Aisyah berkata

Editor: Dheny
Rasullulah Juga Humoris
dok
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H Muhammad Tambrin
Kepala Kanwil Kemenag Kalsel

RASULULLAH, Muhammad SAW adalah manusia yang gemar menebarkan kegembiraan. Contoh, Aisyah berkata, “Rasulullah SAW dan Saudah binti Zam’ah pernah berada di rumahku, aku membuat bubur dari tepung gandum yang dicampur susu dan minyak, kemudian aku hidangkan, aku katakan kepada Saudah, ‘Makanlah’

Maka Saudah berkata, ‘Saya tidak menyukainya,’ Maka aku berkata, ‘Demi Allah benar-benar kamu makan atau aku colekkan bubur itu ke wajahmu,‘ Saudah berkata, ‘Saya tidak mau mencicipinya,‘

Maka aku (Aisyah) mengambil sedikit dari piring, kemudian aku colekkan ke wajahnya. Saat itu Rasulullah SAW menurunkan kepada Saudah kedua lututnya agar mau mengambil dariku, maka aku mengambil dari piring sedikit lalu aku sentuhkan ke wajahku, sehingga akhirnya Rasulullah SAW tertawa.” (HR Zubair bin Bakkar dalam kitabnya Al Fukahah).

Bercandanya Rasulullah tidak pernah dusta. Contoh, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR Imam Ahmad.).

Ada seorang perempuan datang, ya Rasul suamiku sedang sakit. Tolong engkau doakan agar suamiku lekas sembuh. Lalu Rasul berkata, pulanglah akan ku doakan. Niscaya setelah kau pulang, engkau akan melihat mata suamimu putih. (Kan memang mata manusia ada putihnya masa hitam semua?

Menebarkan kebahagiaan, dalam sebuah riwayat disebutkan pula, ”Belum pernah aku menemukan orang yang paling banyak tersenyum seperti halnya Rasulullah“ (Riwayat At-Tirmidzi). Tapi jangan berlebihan, karena sesungguhnya sesuatu yang baik itu berada pada yang sedang:

Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku belum pernah melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadist yang lain, bahwa dalam hal bercanda pun harus jujur: Celakalah bagi orang-orang yang berkata kemudian berbohong, supaya orang-orang tertawa, maka celakalah baginya, celakalah baginya. (HR. Abu Daud)

Berhati-hatilah dengan banyak tertawa, sebab menyebabkan hati menjadi mati (HR Shahih Al Jami).

Suatu hari ada seorang nenek yang bertanya kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulallah, apa aku bisa masuk surga ?”

Nabi Muhammad SAW menjawab. “Di surga tidak ada orang tua”

Mendengar jawaban itu, si nenek tentu saja terpukul dan sangat sedih. Namun kekecewaannya tidak berlangsung lama. Rasulullah SAW kembali berkata. “Di surga yang tinggal hanya mereka yang muda. Orang yang sudah tua di dunia akan kembali jadi muda saat berada di surga”

Para ahli hadits, menilai humor Rasulullah SAW ini, selain melahirkan senyum, juga membawa kabar gembira. Terutama bagi kalangan lansia. Dimaksudkan, agar para lansia terus meningkatkan keimanan dan amalnya kepada Allah SWT.

Di lain waktu, Rasulullah SAW juga bercanda dengan sahabatnya, Anas bin Malik. Beliau memanggil Anas dengan panggilan “ Wahai Pemilik Dua Telinga!”

Tentu saja ini humor yang benar dan tidak keluar jalur. Anas bin Malik pasti memiliki dua telinga, bukan empat telinga. Humor dan cara bercanda Rasulullah SAW tidak pernah lepas kontrol. Apa yang dilakukannya, tidak pernah melanggar kesopanan dan tidak ada mudaratnya.

Dalam literatur Islam masa lalu, cukup banyak tokoh muslim yang telah menghasilkan karya-karya humor. Namun humor dan canda mereka selalu mengandung unsur akidah, muamalah dan akhlak. Di antaranya Nasruddin Hoja, Hani Al-Arabiy, dan Abu Nawas.

Para tokoh humor ini, digambarkan sebagai manusia-manusia unik. Dari ucapan dan perbuatan mereka, semuanya mengandung pengajaran dan dakwah.

Jadi, di dalam Islam sama sekali tidak ada larangan humor dan cara bercanda. Tentu saja selama masih berada dalam koridor yang benar. Kita tidak diperbolehkan bercanda yang berlebihan hingga akhirnya jatuh pada ghibah atau olok-olok. (*)

Sumber: Serambi Ummah
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved