Edisi Cetak

Sebaiknya Ada Pengawalan

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) mengkritik tayangan dakwah Islam di stasiun televisi belakangan ini.

Editor: Dheny
Sebaiknya Ada Pengawalan
IST
Raden Yani Gusriani

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) mengkritik tayangan dakwah Islam di stasiun televisi belakangan ini. MUI berpendapat, program tersebut hanya mengedepankan sisi humor sehingga terabaikan substansinya. Bagaimana mencermati tayangan itu, berikut hasil wawancara Serambi UmmaH dengan dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari, Raden Yani Gusriani:

Mengenai dakwah Islam yang mengandung humor atau lawakan, bagaimana pendapat anda?

Sebenarnya dalam Islam sah-sah saja dakwah atau ceramah ada unsur humornya. Rasulullah SAW sendiri, pernah berhumor dan sempat membuat sahabat tertawa.

Namun, yang kita permasalahkan adalah, sedikit dan banyaknya humor. Disamping mengingat, dakwah bukanlah ajang untuk membuat lelucon.

Tegasnya menurut auda?

Jadi, dalam berdakwah sentuhan sense of humor sesekali bisa saja; sebagai strategi untuk mengembalikan focus audience tanpa mengurangi subtansi dari materi dakwah yang ingin disampaikan kepada sasaran dakwah. Jadi, humor tidak boleh berlebihan apalagi mendominasi ceramah yang diberikan.

Apakah artinya dalam berdakwah harus disisipkan humor?

Ceramah atau dakwah zaman sekarang, jika tidak terdapat konten lucu, tidak diminati oleh audiens.

Makanya kalau kita pertahankan metode dakwah tanpa unsur humor, tidak menarik. Jalan keluar satu-satu menurut mereka, mengemas dakwah dalam bentuk komedian.

Namun dalam berdakwah jangan bercanda dalam perkara-perkara yang serius. Ada beberapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita untuk bercanda.

Kita juga harus melihat audiens yang hadir, jika diperlukan adanya sesekali lawakan boleh saja, namun jika audiens yang hadir serius maka konten dan materi dakwah harus yang serius juga.

Bagaimana menurut anda, dakwah yang dilakukan di stasiun televisi sekarang yang justru lebih mementingkan rating dari pada subtansi?

Seharusnya terbuka yang ditayangkan melalui televisi, walaupun ditujukan bagi kalangan bawah sekalipun, tidak perlu membesarkan porsi komedian secara berlebihan.

Sudah saatnya, para pendakwah tidak lagi menyajikan tontonan yang menganggap, bahwa hanya lawakan bisa menjadi alat atau sisipan metode yang menjamin pembelajaran efektif bagi masyarakat umum.

Pendakwah harus lebih mementingkan subtansi dakwah, agar bisa dimengerti audiens yang mendengar atau melihatnya.Jangan lagi demi popularitas, dakwah dibikin lawakan, bahkan porsi lawakannya lebih besar dari subtanssi dakwah yang ingin disampaikan ke umat.

MUI pernah meminta stasiun televisi, agar membatasi dakwah lawakan. Lalu, bagaimana menurut anda?

Apa yang dilakukan oleh MUI, saya kira sudah tepat dan benar. Dan, saya pun ikut mendukung.

Oleh sebab itu, ada baiknya ada pengawalan dan pembinaan bersama-sama dalam hal ini dari MUI kepada pendakwah dan pimpinan stasiun televisi. (khairil rahim-irham safari)

Sumber: Serambi Ummah
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved