Ribuan Warga Ungaran Arak Kubah Baru Masjid Wali Hasan Munadi

Ribuan umat muslim Kota Ungaran, Kabupaten Semarang, Minggu (13/4/2014) pagi mengarak molo atau mustoko (kubah dalam Bahasa Jawa)

Ribuan Warga Ungaran Arak Kubah Baru Masjid Wali Hasan Munadi
kompas.com/ syahrul munir
Ribuan umat muslim desa Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Minggu (13/4/2014) pagi mengarak Molo atau Mustoko atau Kubah Masjid baru untuk menggantikan kubah lama Masjid Subulussalam, sebuah Masjid yang diyakini dibangun oleh Waliyullah Hasan Munadi. Konon Mbah Hasan Munadi sezaman dengan Walisongo. 

SERAMBIUMMAH.CO.ID, SEMARANG - Ribuan umat muslim Kota Ungaran, Kabupaten Semarang, Minggu (13/4/2014) pagi mengarak molo atau mustoko (kubah dalam Bahasa Jawa) masjid yang akan dipasang pada Masjid Subuluss Salam di Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Molo tersebut merupakan kubah baru yang diambil dari perajin di Kudus, untuk menggantikan kubah lama Masjid Subulussalam, sebuah masjid yang diyakini sebagai peninggalan Waliyullah Hasan Munadi, penyebar agama Islam di Bumi Serasi.

Arak-arakan yang menempuh jarak sekitar 3 kilometer dimulai dari Dusun Blaten, desa Nyatnyono hingga sampai di Dusun Krajan Desa Nyatnyono di mana masjid Subuluss Salam berada.

Medan tempuh arak- arakan cukup melelahkan lantaran menapaki jalan menanjak kearah kaki Gunung Ungaran. Namun suasana gembira dan meriah sangat nampak di wajah peserta.

Suasana bertambah meriah karena arak-arakan diramaikan dengan 8 grup rebana dan selama perjalanan panitia menyalakan petasan. Sementara itu warga yang berdiri di sepanjang jalan berebut "gagar mayang" (bunga kertas warna-warni bertangkai lidi) yang dianggap dapat membawa berkah.

Sesampai di kompleks masjid yang diyakni warga telah ada sejak zaman Walisongo. Kubah bersusun tiga yang mempunyai makna syariat, hakikat dan marifat itu diangkat naik secara estafet menuju ke atap masjid untuk dipasang.

Menurut Ketua Panitia Pembangunan Masjid Subuluss Salam, Parsunto (42) masjid di Nyatnyono pertama kali dirikan pada zaman Walisongo. Bahkan masjid tersebut memiliki keterkaitan sejarah dengan Masjid Agung Demak. Masjid tua kemudian itu direhab besar pada zaman penjajahan Belanda.

Setiap kali dilakukan rehab molo (kubah) masjid tidak pernah dibuang melainkan tetap di pasang di dalam molo yang baru yang bentuknya lebih besar. Termasuk ketika melakukan rehab pada tahun 1986, kubah masjid tetap dipasang.

“Tahun 2014 ini kita rehab lagi menjadi masjid dua lantai, jadi ini sudah rehab besar yang ketiga kalinya sejak zaman dulu. Setiap kali rehab besar molo-nya tidak dibuang, paling tua molo berbahan dari tanah bentuknya seperti kendil. Sampai sekarang masih ada, jadi kalau bisa dipasang rangkap ya dipasangkan, kalau tidak dimuseumkan,” kata Parsunto, ditemui di sela-sela acara arak-arakan molo.

Parsunto mengatakan, acara arak-arakan kubah masjid tersebut digelar sebagai ungkapan rasa syukur, wujud kegotongroyongan sekaligus syiar agama. Sebab dalam acara tersebut seluruh elemen masyarakat juga dilibatkan.

"Bahkan ada juga masyarakat dari luar Nyatnyono yang datang sekaligus untuk berziarah ke makam Waliyulllah Hasan Munadi," pungkas Parsunto.

Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved