Melihat Peruntungan dengan Peramalan

Barang siapa mengaku mengetahui apa yang akan terjadi dimasa datang maka dia adalah peramal

Melihat Peruntungan dengan Peramalan
net
ilustrasi

SERAMBI UMMAH.COM - Nasib manusia merupakan perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta'ala, karena hanya Allah lah yang mengetahui perkara yang ghaib tidak ada yang menyertai Allah dalam ilmuNya kecuali beberapa makhluk yang Allah beri sebagian dari pengetahuan tentangnya, Ia mencatat seluruh takdir makhlukNya di Lauhul Mahfudz.

Allah berfirman :

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" [Q.S Al-An'am : 59].

Bahkan Nabi Muhammad tidak mengetahui hal yang ghaib kecuali sedikit dari yang Allah wahyukan kepadanya, Allah berfirman :

"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman" [QS Al-A'raf : 188]

Barang siapa mengaku mengetahui apa yang akan terjadi dimasa datang maka dia adalah peramal / dukun yang menipu manusia, sedangkan hukum mendatangi para peramal dan dukun adalah haram.

Jika seorang mendatangi seorang dukun untuk menanyakan hal yang ghaib meskipun hanya iseng dan tidak mempercayai ucapan dukun tersebut maka tidak diterima pahala shalatnya selama 40 hari :

"Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 malam tidak diterima.” [HR. Muslim].

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”  [Syarh Muslim, 14: 227].

Ini akibat dari cuma sekedar bertanya, Jika dia sampai mempercayainya maka ancamannya lebih keras lagi karena hal ini merupakan perbuatan syirik karena dia meyakini bahwa ada yang menyamai Allah dalam ilmu ghaib. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

Halaman
12
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved