Breaking News:

Edisi cetak

Nama Masjid Saran Guru Sekumpul

Satu kubah berukuran besar dan empat kubah kecil di empat sudut bangunan menambah indah bangunan masjid

Editor: Dheny
BPost Group
Masjid Ar Riyadh 

SEBUAH bangunan masjid megah berdiri persis di tepi Jalan A Yani km 42, Desa Antasan Senor, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar.

Satu kubah berukuran besar dan empat kubah kecil di empat sudut bangunan menambah indah bangunan masjid kebanggaan warga Antasan Senor.

Dengan ukuran 21 x 21 meter, tempat ibadah yang dinamakan Masjid Ar Riyadh Masjid ini terasa demikian luas ketika memasukinya. Pada bagian dalam, keindahan masjid juga terlihat, dengan empat pilar yang menjulang menopang kubah besar di tengah-tengahnya. Di bagian peimaman, terpasang ornamen keramik yang mirip dengan Langgar Ar Raudah Sekumpul.

Masjid Ar Riyadh memang memiliki sejarah kedekatan dengan mendiang KH Zaini Abdul Ghani atau yang dikenal Guru Sekumpul.

Nama masjid, begitu pula penetapan waktu peletakan batu pertama hingga kali pertama dilakukan salat Jumat, tidak terlepas dari mendiang almarhum Guru Sekumpul.

Bendahara Pengurus Masjid Ar Riyadh, HM Syairaji, mengatakan sejarah berdirinya Masjid Ar Riyadh bermula ketika  almarhum H Karti atau H Mahmud mengungkapkan keinginan menghibahkan lahan. Di atas lahan, berdiri gudang paikat yang tidak aktif lagi. Luasnya, 27 x 30 meter. “Lahan dihibahkan apabila warga Antasan Senor berniat membangun masjid,” urai HM Syairaji.

Mengetahui lahan akan dihibahkan, warga pun akhirnya memberanikan untuk membentuk panitia pembangunan masjid. Terpilihlah H Ahmad Yunan (sebagai ketua), almarhum Suhaimi (sekretaris) dan almarhum H Husni (Bendahara).

Mereka tidak ingin, kesempatan untuk bisa membangun masjid terlewat begitu saja. Karena itulah, setelah terbentuk kepanitiaan, langsung bergerak menggalang dana melalui sumbangan hasil panen padi serta sumbangan tiap Jumat kepada warga di Antasan Senor.

Tetapi karena dana yang terkumpul belum juga cukup, maka diputuskan untuk melakukan penggalangan dana di jalan. Cara ini mendapat respon cukup besar, sehingga setiap harinya bisa terkumpuldana sebesar Rp 2 hingga Rp 3 juta. Bahkan pada hari libur, bisa sampai Rp 5 juta.

Dari hasil penggalangan dana itulah, selanjutnya dilakukan peletakan batu pertama pada 12 Rabiul Awal tahun masehinya 1996. Waktu untuk peletakan batu pertama itupun, tidak lepas dari masukan Guru Sekumpul. Kesediaan ulama besar itu berkat bantuan almarhum H Karti yang punya hubungan dekat dengannya.

Setelah setahun berjalan, akhirnya pembangunan masjid selesai pada 1997. Saat itu, panitia kembali meminta bantuan almarhum H Karti untuk memintakan nama masjid kepada Guru Sekumpul. Saat itu, Guru Sekumpul memberikan nama Masjid Ar Riyadh. Maknanya, kebun. Maksudnya, kebun di surga.

Tidak hanya nama yang diberikan Guru Sekumpul, waktu untuk peresmian pertama kali masjid ini pun, ditandai dengan salat Jumat, atas saran Guru Sekumpul juga. Sarannya, diresmikan Jumat, 21 Rajab dengan tahun masehi 1997. Untuk salat Jumat, langsung diimami Guru Sekumpul dan khatibnya adalah almarhum KH Abdus Syukur.

“Guru Syukur saat itu berpesan agar warga bersyukur dengan berdirinya masjid ini dan tetap menjaga serta merawatnya. Kalau Guru Sekumpul menyampaikan, perlu ketabahan dan sabar dalam membangun dan menjaga masjid,” ujar Syairaji yang juga Sekretaris Desa Antasan Senor ini.

Selain salat Jumat, mereka juga tidak kesulitan ketika menggelar kegiatan-kegiatan peringatan hari besar Islam. Tidak itu saja, bermanfaat pula bagi warga dari hulu sungai untuk beribadah atau sekadar beristirahat.

“Alhamdulillah, warga dari hulu sungai yang hendak pulang banyak memilih singgah di masjid ini. Alasan mereka, karena masjid ini memiliki areal parkir yang luas serta dilengkapi dengan fasilitas kamar kecil yang bersih,” ujar Syairaji. (hari widodo-alpri w)

Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved