Harus dengan Kasih Sayang

KASUS kekerasan terhadap pelajar kembali terjadi. Riduan (12), siswa SMP PGRI 4, Banjarmasin mendapat

Harus dengan Kasih Sayang
BPost Group
Sejumlah pelajar yang pulang sekolah menunggu jemputan di halte di bahu Jalan A Yani Km 15, Gambut, Banjar. Halte yang mereka tempati ini merupakan bangunan lama yang kondisinya sudah tidak layak. 

KASUS kekerasan terhadap pelajar kembali terjadi. Riduan (12), siswa SMP PGRI 4, Banjarmasin mendapat pemukulan di pipi kiri yang menyisakan luka lebam.

Riduan sempat melaporkan kejadian tersebut  ke Polsek Banjarmasin Barat, pada Rabu (23/4) lalu, didampingi ibundanya. Riduan melaporkan Wakil Kepala Sekolah SMP PGRI 4, Titin Kristina Ningsih (48), warga Jalan Kelayan B.

Bocah berbadan gempal tersebut melaporkan Wakil Kepala Sekolah karena melakukan pemukulan saat dia sedang berbaris di depan kelas untuk persiapan pulang.

Tak hanya di Banjarmasin, kasus kekerasan terhadap siswa juga terjadi di daerah lain. Seperti yang menimpa siswa SD 2 Karangmalang di Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Gara-gara tak mengerjakan PR, hidung Aep (9) digigit guru kelasnya. Akibatnya, korban malu, takut dan tak mau masuk sekolah.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), Tumiran, mengatakan kasus kekerasan terhadap murid disebabkan dua kemungkinan. Siswa yang keterlaluan atau karena guru melakukan berbagai cara untuk mendidik.

Dengan menasihati, menegur, memanggil wali kelas, hingga Bimbingan Konseling. Bila dianggap keterlaluan, guru dengan batas kesabaran, bisa terpancing emosi. Hingga kejadian tak bisa dihindarkan.

Namun, kekerasan terhadap siswa juga tidak dibenarkan. Banyak cara yang bisa ditempuh. Bukan zamannya lagi menggunakan kekerasan. Guru bak seorang montir, serusak apapun mobilnya, ada cara untuk memperbaiki.

“Senakal apapun, tetap tidak boleh menggunakan cara kekerasan,” kata pria yang menjabat kepala SMAN 4 ini.

Kepala Dinas Pendidikan Banjarmasin, Rusdiansyah mengatakan guru sebagai pendidik, dalam artian memberikan ilmu bagi siswa, merupakan orang terdidik. Artinya mengerti ilmu, termasuk cara menghadapi siswa.

Guru dibekali pendidikan psikologi, cara yang baik menghadapi anak. Dengan berbagai cara, tidak dengan cara kekerasan. Hal tersebut tidak dibenarkan sama sekali. Ia menegaskan, guru yang menggunakan kekerasan, bakal mendapatkan sanksi tegas.

“Tidak boleh sama sekali, bakal ada sanksi tegas,” katanya.

Ustad Syahdi mengatakan dalam Islam orangtua harus mendidik anaknya untuk salat pada umur tujuh tahun, dalam hadist diriwayatkan Al Imam Abu Dawud. Kemudian bila pada umur 10 tahun tetap tidak salat, baru orangtua atau wali boleh memukulnya. Dengan niat untuk mendidik.

Kemudian suami, juga dibolehkan memukul istri, tetapi tidak di daerah wajah. Bila sang istri membangkang. Namun, kekerasan dalam Islam adalah langkah terakhir. Jika dengan berbagai cara tidak bisa dilakukan.

Tidak boleh sama sekali mengandalkan kekerasan. Karena hubungan guru dan murid, diibaratkan seperti ayah dan anak. Di dalamnya, ada kasih sayang. Artinya, mendidik dengan kasih sayang.

Guru, artinya orangtua di sekolah. Pandangan tersebut merupakan hal yang luar biasa dalam Islam. Menempatkan guru dalam posisi sama seperti orangtua. “Itu jalan terakhir,” tandas pengajar pesantren Al Hikmah ini. (restudia-elpian)

Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved