Breaking News:

Edisi Cetak

Jadilah Pendengar yang Baik

DALAM membina rumah tangga, manusia tak luput pertengkaran. Kadang permasalahan bisa terselesaikan oleh bantuan pihak ketiga.

Editor: Sudi
NET
Ilustrasi 

DALAM membina rumah tangga, manusia tak luput pertengkaran. Kadang permasalahan  bisa terselesaikan oleh  bantuan pihak ketiga. Entah itu melalui saran sahabat, keluarga atau orang yang menguasai permasalahan seperti psikolog dan psikiater.

Saat bercerita kepada orang yang dipercaya, setidaknya beban yang ada di hati bisa sedikit berkurang. Namun begitu, tentunya harus benar-benar tepat mencari teman curhat. Jangan sampai justru tersebar ke orang lain, sehingga memperluas persoalan.

“Memang, kalau aku bila sudah curhat, biasanya akan merasa lega. Apa yang mengganjal di hati jadi plong,” ucap Rani, satu pegawai swasta di Banjarmasin.

Tetapi , dia mengatakan harus benar-benar selektif memilih teman curhat agar rahasia  aman dan tidak akan tersebar ke pihak-pihak lain.

Lain lagi dengan Agus. Pria dua anak ini mengaku sering dimintai pendapat atau saran dari teman-temannya mengenai kehidupan berkeluarga.

“Mungkin karena saya lebih tua dari teman-teman lain, jadi mereka sering curhat,” paparnya sambil tersenyum.

Untuk hal-hal tertentu, Agus lebih banyak mendengarkan dan sedikit ngomong. “Aku banyak mendengarkan. Takut juga memberi saran kalau tasalah jer urang Banjar,” paparnya.

Secara terpisah, psikolog Jehan Safitri mengungkapkan, saat kita menjadi tempat curhat teman, hal pertama yang dilakukan sadari kemampuan diri sendiri.

“Pastikan saat dia memutuskan Anda menjadi orang yang dia percaya untuk membantu, maka Anda diharapkan untuk bersikap membantu, tidak menghakimi, apalagi menjadi provokator,” ujar Jehan.

Dia mengakui, sebenarnya hal itu sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, apabila merasa diri tidak mampu membantu, sampaikan hal itu terlebh dahulu. Sampaikan bahwa Anda hanya mendengarkan tanpa mampu untuk memberikan solusi yang diharapkan.

Saat mendengar curhatnya, pastikan Anda menyimak apa yang dikatakannya dengan sesekali mengulang atau menyimpulkan.

“Anda harus menyadari bahwa hal ini adalah amanah. Dan dalam  kondisi apapun Anda tidak diperbolehkan membicarakan apa yang menjadi curhatan teman kepada pihak lain tanpa seizinnya,” ujar Jehan.

Jehan menambahkan, ketika Anda pernah merasakan masalah yang sama, berbagilah informasi bagaimana cara menghadapi permasalahan tersebut. Bukan untuk menyarankan apa pun, hanya berbagi pengalaman.

“Sebab walaupun permasalahan sama, kondisi tiap manusia tidak ada yang sama,” katanya.

Hal itu dapat dilakukan sebagai langkah awal membantu teman yang curhat.  Namun apabila Anda merasa tidak nyaman atau  tidak mampu, maka sarankan  mencari pertolongan pada pihak profesional yang mang memiliki kompetensi di bidangnya. (irfani rahman-mulyadi danu saputra)

Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved