Breaking News:

Edisi Cetak

Khamar dalam Pandangan Islam

QURAN surah Al Maidah ayat 90 (artinya): “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala

Editor: Sudi
Khamar dalam Pandangan Islam
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H Muhammad Tambrin
Kepala Kanwil Kemenag Kalsel

QURAN surah Al Maidah ayat 90 (artinya): “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”.

Setiap yang memabukkan berarti khamar, dan setiap khamar hukumnya haram” (HR Bukhary dan Muslim). Definisi khamar, juga dapat ditemukan dari penjelasan Umar RA “Setiap yang bisa menutupi  akal pikiran disebut khamar” (HR Bukhary dan Muslim)

Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab sudah akrab dengan minuman beralkohol atau disebut juga minuman keras (khamar dalam bahasa Arab). Disamping itu, hampir semua syair/puisi Arab sebelum datangnya Islam tidak lepas dari pemujaan terhadap minuman beralkohol. Ini menyiratkan betapa akrabnya masyarakat tersebut, kebiasaan mabuk minuman beralkohol.

Apakah menurut pandangan Islam, alkhohol dan khamar itu sama? Dalam banyak kasus, keduanya identik. Namun sesungguhnya yang dimaksud  khamar, tidak selalu merujuk pada alkohol. Yang disebut khamar, adalah segala sesuatu minuman dan makanan yang bisa menyebabkan mabuk.

Perlu diingat alkohol hanyalah satu bentuk zat kimia. Zat ini juga digunakan untuk berbagai keperluan lain, seperti dalam desinfektans, pembersih, pelarut, bahan bakar dan sebagai campuran produk-produk kimia lainnya. Untuk contoh-contoh pemakaian tersebut, alkohol tidak bisa dianggap sebagai khamar, oleh karenanya pemakaiannya tidak dilarang dalam Islam.

Sebaliknya, jenis obat-obatan seperti psikotropika dan narkotika, walaupun tidak mengandung alkohol, dalam pandangan Islam dikategorikan sebagai khamar yang hukumnya haram/terlarang.

Aturan larangan (pengharaman) minuman keras (khamar) berlaku untuk seluruh umat Islam, tidak ada perkecualian untuk individu tertentu. Yang dilarang dalam Islam, tindakan meminum khamar itu sendiri, terlepas apakah si peminum tersebut mabuk atau tidak.

Islam bukan tidak mengetahui sisi manfaat khamar, namun dampak kerusakan khamar dalam kehidupan manusia jauh lebih besar dari manfaat yang bisa diperoleh. Hal ini dinyatakan dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 219 (artinya) “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

Pada mulanya khamar adalah minuman keras yang terbuat dari kurma dan anggur, tetapi karena dilarangnya itu sebab memabukkan, maka minuman yang terbuat dari bahan apa saja (walaupun bukan dari kurma atau anggur) asal itu memabukkan, hukumnya sama dengan khamar.

Larangan minum khamar, diturunkan secara berangsur-angsur. Sebab minum khamar itu bagi orang Arab sudah menjadi adat kebiasaan yang mendarah daging semenjak zaman jahiliyah. Mula-mula dikatakan bahwa dosanya lebih besar daripada manfaatnya, kemudian orang yang mabuk tidak boleh mengerjakan salat, dan yang terakhir dikatakan bahwa minum khamar itu adalah keji dan termasuk perbuatan setan.

Begitulah, akhirnya Allah mengharamkan minum khamar secara tegas. (*)

Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved