Edisi Cetak

Mengawah Cerminkan Semangat Kebersamaan

MENANAK nasi dalam wajah besar dengan bahan bakar kayu dan dilakukan secara bersama-sama

Mengawah Cerminkan Semangat Kebersamaan
BPost Group
Tradisi mengawah yang masih bertahan di Kalsel 

MENANAK nasi dalam wajah besar dengan bahan bakar kayu dan dilakukan secara bersama-sama yang biasa disebut mengawah sampai kini masih terlihat dalam kehidupan sehari-hari di Kalsel.

Di Tabalong, tradisi yang penuh cerminan semangat kebersamaan serta gotong royong ini juga belum pudar dan kerap terlihat di beberapa lokasi terutama di desa-desa.

“Di tempat kami tradisi mengawah masih dilakukan sampai sekarang,” ujar Kepala Desa Bintangara, M Misran.

Menurut dia, mengawah ini merupakan sebuah tradisi turun menurun yang dilakukan masyarakat apabila ada hajatan digelar. Hajatan yang dimaksud bisa saat ada aruh, kematian, kawinan atau acara-acara desa lainnya yang memerlukan makanan dan minuman dalam jumlah banyak.

Dalam pelaksanaannya sendiri ketika mau mengawah biasanya tidak ada ritual khusus yang dilakukan sebelum memulai. Semuanya berjalan alami, asalkan segala keperluan untuk mengawah seperti wajan besar, kayu bakar dan lainnya sudah lengkap.

“Jadi kalau pas ada aruh itu masyarakat secara sendirinya akan berdatangan dan sama-sama bergotong royong mengawah, karena sudah terbiasa,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Sekretaris Dewan Kesenian Tabalong, Mardhi Yansurie HS, saat ini tradisi mengawah memang masih sering terlihat. Hanya saja tak seperti dahulu yang hampir merata bisa ditemukan di Tabalong. Di wilayah perkotaan, tradisi mengawah ini sudah mulai berkurang.

“Kalau di desa-desa masih terus ada tradisi mengawah ini. Ini merupakan tradisi gotong royong atau disebut juga gawi sabumi. Disebut mengawah karena memasaknya menggunakan rinjing ganal dan kayu bakar, sehingga ada asapnya,” kata Mardhi yang juga pemerhati budaya ini.

Mengawah sendiri ada yang untuk keperluan acara orang tertentu, misalnya untuk acara nikahan, selamatan, kawinan ataupun kematian. Ada juga mengawah untuk acara bersama, misalnya ketika ada pembuatan bubur Asyura atau hajatan desa yang dilakukan secara gotong royong.

“Yang jelas pada prinsipnya sama-sama mencerminkan kebersamaan dan gotong royong,” jelasnya.

Halaman
12
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved