Breaking News:

Edisi Cetak

Kesiapan Guru Menghadapi Kurikulum Baru

Dalam mengimplementasikan kurikulum, yang lebih penting adalah guru sebagai ujung tombak

Editor: Dheny

Oleh: Marzuki Ahmad
(Pengawas Madya Kementerian Agama Kab. Banjar)

”TIDAK bisa ditunda dan harus dimulai tahun ajaran ini. Jika kita menunda, taruhannya  besar terhadap masa depan generasi bangsa,” Itulah sepenggal kalimat yang dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Muhammad Nuh, yang bersikukuh segera merealisasikan Implementasi Kurikulum 2013.

Dalam mengimplementasikan kurikulum, yang lebih penting adalah guru sebagai ujung tombak bahkan bisa menjadi garda terdepan pelaksanakan kurikulum. Oleh karena itu, betapa pentingnya kesiapan guru mengimplementasikan kurikulum itu selain kompetensi, komitmen dan tanggung jawabnya serta kesejahteraan yang harus terjaga.

Secara garis besar tuntutan kurikulum untuk mempersiapkan generasi di masa mendatang yang tangguh, mampu bersaing di era teknologi informasi yang berkembang cepat, mampu bisa beradaptasi terhadap tantangan global, serta mampu memberikan solusi atas segala permasalahan terkini.

Tantangan para guru tidak ringan, mulai mampu mengikuti perkembangan informasi terkini, menjadi teladan bagi siswanya untuk senantiasa kerja keras menjadi guru profesional, mampu mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam kegiatan belajar mengajar aktif, kreatif, dan efektif.

Guru mempunyai peran yang besar dalam proses pembelajaran pada setiap pergantian kurikulum. Setidaknya ada empat aspek kompetensi guru yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi kurikulum 2013 (Kemendiknas dalam Harun , 2012), yaitu:

1. kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar, kompetensi pedagogik. Di dalamnya terkait metodologi pembelajaran, yang nilainya dalam pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) baru mencapai 44,46.

2. kompetensi akademik (keilmuan), ini juga penting, karena guru sesungguhnya memiliki tugas untuk bisa mencerdaskan peserta didik dengan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Jika tidak, peserta didik tidak akan mendapatkan ilmu pengetahuan apa-apa.

3. kompetensi sosial. Guru sebaiknya memiliki kompetensi sosial, karena ia tidak hanya dituntut cerdas dan menyampaikan materi keilmuanya dengan baik, tetapi dituntut untuk secara sosial memiliki kompetensi yang memadai, baik terhadap teman sejawat, peserta didik maupun lingkunganya.

4. kompetensi manajerial atau kepemimpinan. Pada diri gurulah sesunguhnya terdapat teladan, yang diharapkan dapat dicontoh oleh peserta didiknya. Seperti pada slogan ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani.

Empat tujuan itu diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Disinilah guru berperan besar dalam mengimplementasikan tiap proses pembelajaran pada kurikulum 2013.

Mencermati isi kurikulum 2013, yang perlu dipersiapkan guru bisa diringkas dalam dua hal. Pertama, membiasakan diri menggunakan metode tematik-integratif. Perubahan cara guru agar memposisikan muridnya sebagai rekan belajar (sehingga tidak perlu didoktrin, melainkan dipandu untuk menemukan pengetahuan) juga penting, asumsi guru sudah memahami perubahan paradigma ini sejak ditegaskan dalam KBM 2004.

Kedua, guru harus siaga dalam perubahan bidang pengetahuanya. Ciri pembelajaran abad ke-21 yang telah disadari kurikulum 2013 adalah, guru tidak bisa menjadi satu-satunya sumber belajar. KBM tidak lagi membuat murid dari tidak tahu menjadi tahu. Bisa saja murid ketika masuk kelas sudah membekali diri dengan sederet informasi yang mengenai materi yang akan diajarkan.

Konsekuensinya, mungkin murid sesekali akan memberikan pertanyaan kritis yang tataranya bukan “tahu” (knowing) semata, melainkan menjangkau tingkat analisis, bahkan menemukan pengetahuan baru.

Akhirnya, perubahan kurikulum apa saja yang diterapkan jika guru memiliki kemanpuan untuk menerapkan paradigma yang baru, metode yang sesuai serta berbagai kompetensi yang dimilikinya, maka optimisme itu akan muncul bahwa pendidikan di Indonesia akan lebih baik.Begitu pula sebaliknya, kurikulum apa saja yang diterapkan jika guru masih memiliki paradigma lama, metode konvensional serta kompetensi yang minim, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. (*)

Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved