Edisi Cetak

Memaknai Pendidikan

PENDIDIKAN bisa didapatkan sejak dalam kandungan sang ibu, contohnya, tak jarang ibu menyetel musik-musik jaz untuk janinnya.

Oleh: Abdul Halim
(Kepala MIN Handil II Tambak Sirang)

PENDIDIKAN bisa didapatkan sejak dalam kandungan sang ibu, contohnya,  tak jarang ibu menyetel musik-musik jaz untuk janinnya. Hal sekecil itu sudah termasuk pendidikan, tentu akan terasa bermanfaat di masa yang akan datang.

Kita tidak bisa lari dari pendidikan, karena sudah ada sejak sebelum lahir. Dalam kehidupan sehari-hari, kita membutuhkan pendidikan. Tanpa adanya pendidikan, bangsa Indonesia tidak akan pernah menjadi bangsa yang makmur. Ada ribuan argumen yang mengatakan, bahwa pendidikan adalah sesuatu yang amat penting.

Pepatah klasik pun bilang “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Di zaman kontemporer usai perang dunia II, ada kisah Kaisar Jepang melihat negaranya luluh lantak justru bertanya: Berapa orang guru yang masih hidup? Sebuah bangsa yang kala itu disebut fasis, memiliki pemahaman prioritas bahkan jauh lebih unggul dari apa yang dimiliki bangsa Indonesia, hari ini.

Pendidikan bukanlah sebuah alat “serta merta“, dan  keilmuan bukanlah sebuah tongkat ajaib. Esensi belajar ke jenjang yang lebih tinggi (baik sarjana, master, maupun doktor) atau pun belajar mandiri bukanlah untuk menambah IQ. Bahkan masih ada perdebatan apakah pendidikan yang lebih tinggi memiliki hubungan kausalitas dengan IQ.

Jadi, mengapa pendidikan itu sangat penting? Sebenarnya benefit utama dari pendidikan adalah pola pikir yang terasah dengan skema dan framework. Seorang yang belajar dengan baik akan terbiasa berpikir rasional dan cenderung kritis, sebab mereka terbiasa mempertanyakan segala sesuatu yang secara logis.

Pendidikan di Indonesia zaman ini, tak ubahnya merupakan industri belaka. Ia mengubah bahan mentah (siswa) menjadi produk akhir (lulusan berijazah). Banyak yang menyadari hal ini, hingga sempat tercetus ungkapan, “para homo sapiens mendaftar ke sekolah dan lulus sebagai homo roboticus”.

Aspek kemanusiaan dan memanusiakan yang hilang dalam proses pendidikan, dianggap wajar sebagai warga yang harus dibayar atas nama kemajuan. Hidup begitu sibuk dan bergerak cepat dalam kompetisi. Dalam lembaga pendidikan kita di Indonesia, jika siswa dianggap sebagai bahan, sekolah adalah pabrik, lalu guru itu apa? Tentu guru adalah buruhnya. Pekerjaan mulia yang dulu diagungkan tanpa tanda jasa itu, kini telah lama tergusur napas industri.

Guru yang sejatinya menuntun dari gelap pada terang; menjadi teladan; kini sekadar satu dari berbagai profesi dalam industri. Tepatnya industri jasa pendidikan. Orangtua dan siswa yang selayaknya menghargai guru sebagai penyampai ilmu dan pembimbing, memandangnya tak lebih dari pekerja. Seseorang yang dibayar untuk memberi jasa.

Guru yang memikirkan moral siswa biasanya dianggap terlalu ikut campur. Guru hanya dituntut memberi pelayanan terbaik. Pelayanan apa yang dimaksud? Tentu saja melakukan pekerjaan pabrikan, mengubah barang mentah (siswa) jadi produk akhir (lulusan berijazah). Ijazah didapat bila lulus ujian. Aktivitas ujianpun biasanya menyelesaikan sejumlah soal yang bobotnya kurang tepat bila dianggap sebagai instrumen evaluasi penguasaan ilmu. Yang penting nilai tinggi dan lulus ujian, maka demi hal itu semua upaya ditempuh.

Guru yang putus asa pun mengajari teknik-teknik berbuat curang, semuanya demi lulus ujian, demi ijazah yang telah jadi tujuan. Jadi, apa saja yang kita dapat dari industri jasa pendidikan ini? Sekian tahun kita berada dalam institusi pendidikan, sudahkah kita sungguh-sungguh memaknai pendidikan? Bagaimana pendidikan seharusnya terselenggara? Untuk apa?

Dalam memaknai pendidikan, ada yang berpendapat bahwa kecerdasan seseorang terindikasi dari kemampuannya memecahkan persoalan sains (natural maupun sosial) yang rumit. Sementara yang lainnya menuntut agar kecerdasan itu juga disertai keterampilan manajerial dan interpersonal.

Pihak berikutnya menihilkan itu semua dan berkata intelektualitas seperti itu, tak ada artinya tanpa budi pekerti yang baik. Mereka pun berdebat tentang standar-standar budi pekerti,akhirnya terdampar pada polemik yang sulit diakhiri karena pijakan nilai yang beragam.

Dengan demikian, membicarakan pendidikan akan terkait erat dengan sistem nilai yang digunakan sebagai basis. Bila hanya memiliki patokan-patokan kabur dalam menentukan kualitas keluaran sistem pendidikan di Indonesia, seperti yang tercantum dalam UU Sisdiknas tanpa disertai landasan ideologi yang jelas, hasilnya sekadar membuat sistem pendidikan tak tentu arah.

Kualitas lulusan seperti hasil perjudian, yang baik atau buruk didapat secara acak dengan pengaruh faktor-faktor di luar pendidikan formal yang lebih dominan dalam membentuk kompetensi maupun kepribadian siswa. Karena itu kita kembali menengok pada makna pendidikan dalam Islam yang bukan sekadar formalitas dan monopoli institusi. Hal ini tergambar dalam hadits, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat“ (HR Ibnu Majah).

Setiap muslim diharapkan mendapat pendidikan sedini mungkin. Tanggung jawab pertama dan utama pada orangtua, terutama ibu. Dalam interaksi dengan anak, bahkan sebelum dilahirkan, ibu hendaknya sudah membiasakan anak dengan ayat-ayat ilahi, membesarkannya dalam suasana islami, orangtua dituntut menjadi teladan pertama bagi anak dalam hal ketaatan pada Allah, sehingga ia tumbuh menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Pekerjaan ini tentu tidak mudah, sehingga Islam merumuskan pembagian peran yang tepat antara ibu dan ayah. (*)

Editor: Sudi
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved